x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Fenomena Islam Radikalisme

Islam radikal merupakan sebutan bagi paham yg berislam dengan cara prisipil (cara yg ada sesuai perintah dan larangan yg termaktub dlm Alquran dan Sunnah) dan mereka berusaha mengamalkannya terlepas dari konteks sosial, budaya, ataupun politik. Mereka disebut muslim radikalis karena mereka  berani menampilkan pembacaannya tentang Islam yg sesuai dg nash yg ada. 

Dalam pandangan lain, muslim yg radikalis adalah mereka yg telah belajar tentang suatu ilmu dalam agama lalu merek Langsung menerapkannya ketika ada kesemlatan yg berkenaan dg ilmu tersebut. Seorang muslim yg jujur dalam berdagang tanpa mengurangi timbangannya adalah seorang muslim yg radikalis. Seorang yg menundukan dan menjaga pandangan dari lawan jenis ialah muslim yg radikalis. Bahkan, seorang yg tumaninah berangkat haji tanpa memikirkan bagaimana keluarga yg ditinggalkan dan bagaimana hal yg menyangkut dirinya di tanah airnnya ia bisa disebut muslim yg radikalis.

Jika dipandang baik atau buruk? Saya berpandangan Muslim radikalis itu baik karena berusaha mengamalkan perintah Allah SWT dan Rasulnya tanpa pikir panjang, bagi saya sulit melakukan tindakan keagamaan yg tanpa perhitungan bagaimana dampaknya dan bagaimana pula pandangan di mata. Misalkan seorang manusia tak pernah tidak bermusyawarah ketika bersama-sama dalam suatu majlis, bahkan seseorang yg menganggap senyum adalah sedekah merupakan muslim radikalis.

Fenomena Islam radikal di Indonesia.
Islam radikal menjadi isu hangat semenjak peristiwa Bom Bali, yg menewaskan wisatawan asing dan warga lokal. Ketika paruh abad 21 (tahun 2000an) Indonesia ramai dg beberapa kasus teror bom yg dilakukan di berbagai tempat seperti Bali, Hotel yg berbau Barat, dan lainnya. Bahkan bukan hanya di dalam negeri, paruh tahun 90an di penjuru dunia lainnya mengalami teror bom. Pelaku teror tersebut mengatasnamakan Muslim yg melawan dogma barat dan kekafiran yg nampak dimuka bumi.

Mereka seolah wajib memberantasnya dg cara seperti itu. Maka munculah istilah Islam radikal bagi mereka yg melakukan cara2 seperti itu. Bahkan kbbi mengupdate istilah baru mengenai ini, yaitu istilah radikalisme.Ra·di·kal·is·me (noun) 1 paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik.

Kembali ke Sejarah.

Agama selalu diatasnamakan dalam kehidupan manusia yg menganutnya. Sebut saja Galileo yg menentang gagasan Gereja yg berkuasa sejak itu tentang pusat bumi itu dari mana? Akhirnya Galileo dituntut untuk meminta maaf dan mencabut pendapatnya, itupun tidak membuatnya terbebas dr hukuman dari eksekusi menjadi tahanan kota. Setelah kasus ini, gereja mulai melakukan sistem sekulerisme (pemisahan angara dogma agama dan urusan kenegaraan (sosial/politik/ekonomi).

Di belahan dunia lain, Imam Ahmad Ibn Hanbal menolak doktrin penguasa bahwa Kalamullah itu makhluk, dan menyebut serta mengajak pd khalifah ketika itu, Al Makmun yg dilanjut Al Mu'tashim, untuk mencabut pemahaman yg menyebut Alquran itu makhluk. Akibatnya, ia disiksa dan didakwahi bahwa Alquran itu makhluk, namun ia menolaknya.

Hubungan peristiwa ini adalah keduanya melakukan radikalisme, yaitu mempertahankan terhadap apa yg dipegang dan dianutnya. Sedangkan fenomena teror yg beberapa dekade terjadi di Indonesia bahkan luar Indonesia merupakan kasus yg berbeda. Para pelaku teror beberapanya hanya yakin terhadap sesuatu tanpa tahu ilmunya ataupun dasar2 yg melatarbelakangi perbuatannya. Tentulah kurang bahkan tidak pas menyebut pelaku teror ini adalah penganut Islam yg radikal. 

Mengutip Bassam Tibi tentang Islamisme bahwa org2 yg menganggap suatu ritual/perbuatan yg mengantakannya pada suatu pahala tanpa benar2 tahu dalil dan penerapan konsepnya sesuai konteks yg ada adalah salah, dan telah keluar dr Islam. Mereka hanya menjadikan agama (Islam) sebagai pondasi yg semu karena kekurangtahuannya.

Penegakan khilafah apakah bentuk radikalisme?
Jika berkaca pd hadits Nabi SAW riwayat Ahmad, bahwa umat islam jika dk fasekan mengalami masa2 kepemimpinan:
1. Periode kenabian
2. Khilafah ala minhaj nubuwah
3. Mulkan 'Aadhon
4. Mulkan Jabbriyyan
5. Kembali ke nomer 2.

Sebagian umat islam ada yg meyakini kita sudah ada di fase ketiga tinggal menunggu fase keempat. Di satu sisi lain, ada yg meyakinj sudah ada di fase keempat tinggal menunggu bahkan mengusahakan fase kelima.
Fakta bahwa telah munculnya partai2 dalam islam dan pengupayaan khilafah oleh sebuah harokah internasional sampai lokal adalah anti tesis dari hadits ini.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap hadits ini? Pertama, mengimani bahwa Rasul SAW memberitakan ini dan akan terjadi kelak, entah sekarang atau kapan. Kedua, introspeksi secara pribadi dan kolektif apakah kita telah ada di fase mana. Ketiga, penegakan khilafah apakah bentuk radikalisme? Saya jawab Ya, karena itu pengupayaan dalil yg telah ada. 

Secara hukum demokrasi, bersalahkah kita terhadap pengupayaan ini?
Saya jawab tergantung, bagaimana pengupayaan itu apakah berbuah teror, jika berbuah teror (mengancam keamanan umum, menghancurkan ekonomi, menganggu stabilitas politik) maka ya, ia bersalah secara hukum karena melanggar UU No. 5 Th. 2018 tentang Terorisme. 

Lalu radikalismenya? Bagi saya itu sulit diukur karena radikalisme itu sifatnya abstrak dan relatif. Setiap org punya daya radikalis yg bervariatif (berkenaan dg respon aktivitas keagamaannya). Kemudian, Undang2 pun tak mengatur radikalisme secara gamblang, tidak seperti terorisme yg jelas dan rinci per pasalnya dalam UU No. 5 th. 2018. Radikalisme dalam beragama saya anjurkan agar perintah dan larangan Allah SWT dapat ditunaikan, terlepas sekemampuan masing2 hambanya, dan ini bagi saya justru Hak Asasi Manusia yg bebas memeluk agamanya sesuai dg kepercayaaanya masing-masing.

Siti Rohilah
KPI 3 D

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia