x
BREAKING NEWS

Kamis, 26 Desember 2019

Edukasi guna menangkal radikalisme

"Mantan Menko polhukam Wiranto ditusuk". Siapa pelakunya? Atas dasar apa dia melakukan kejahatan tersebut? Siapa yang menyuruhnya?

Berkaitan dengan musibah yang terjadi pada pak Wiranto, isu radikalisme kembali mencuat. Pelaku penusukan tersebut katanya terindikasi terpapar paham radikal. Pemerintah merespon dengan menggencarkan program de-radikalisasi.

Radikalisme adalah cara berpikir yang mendalam, menginginkan perubahan secara instan meskipun dengan beagam cara. Yang menjadi masalah adalah cara berpikir dan pengaplikasian berpikir seseorang tentunya berbeda-beda. Orang yang terpapar radikalisme ini dimana dia memiliki fanatisme yang berlebihan , menyalahkan yang tidak sepaham serta dalam keadaan ekstrim bisa mengancam nyawa orang lain. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi radikal, kalau ia memiliki cara pandang yang sempit dalam menafsirkan sesuatu dan dalam penerapan pikirannya yang salah sehingga berpotensi merugikan ataupun mengancam hak seseorang.

Heterogen merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Beragam keyakinan, agama, sampai kepada cara berpakaian pun berbeda-beda. Seharusnya kita memiliki ifat toleransi yang lebih dalam menyikapi keberagaman ini. Kita tidak bisa membiarkan orang yang menyalahkan ataupun melakukan suatu tindakan yang dapat mengancam hak asasi warga untuk bisa hidup di negara ini.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara untuk membantu dalam program de-radikalisasi ini ? Salah satu kuncinya adalah pendidikan. Kematangan berpikir serta dapat menganalisa segala problema atau masalah yang ada bisa didapat dari bagusnya kualitas pendidikan seseorang. Terkadang, pelaku ekstrimisme ini dilatarbelakangi oleh pendidikan yang kurang sehingga kurang cakap dalam menyikapi masalah bahkan perbedaan. Maka dari itu sistem pendidikan kita haruslah merujuk pada kesadaran seseorang dapat berfikir dari berbagai sudut pandang, sehingga terciptalah berfikir yang lebih terbuka.

Selain itu, lembaga pendidikan harus membuka gerbang seluas-luasnya dalam hal mengemukakan pendapat. Ruang diskusi, Tanya jawab serta ruang debat yang terbuka tentunya diperlukan guna mempermudah masyarakat dalam bertukar pikiran, ide serta gagasan. Juga untuk menunjukkan budaya debat yang baik serta cara penyelesaiannya.

Satu hal yang perlu diperhatikan Negara pula adalah jangan terlalu mudah mengatakan seseorang terpapar radikal selama tidak dalam keadaan melawan hokum dan menganca nyawa oran lain. Hal itu yang justru membuat resah masyarakat, dan pelaku radikalisme yang lain malah berbuat semakin leluasa.

Salah satu cara melawan radikalisme ini bisa kita atasi dengan pendekatan pendidikan. Edukasi, Diskusi dan tukar pendapat bisa membuat masyarakat terbiasa dengan keberagaman dan perbedaan maka akan terbentuk budaya toleransi dan saling menghargai walaupun berbeda pandangan, selain itu dapat membentuk budaya diskusi dan berdebat dengan cara yang baik.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia