x
BREAKING NEWS

Selasa, 24 Desember 2019

Bosan dengan Stigma Radikalisme

Beberapa bulan yang lalu , di  Debat Pilpres ada wacana untuk mengadakan program de-radikalisasi dan akhir-akhir ini wacana de-radikalisasi itu kembali mencuat. Hal ini ditunjukkan dengan respon Presiden Joko Widodo tentang penusukan mantan Menko polhukam Wiranto yang terjadi pada bulan Oktober lalu, pemerintah sedang gencar gencarnya untuk melakukan program de-radikalisasi ini.

Sebelumnya Radikalisme adalah masalah berfikir dan pengaplikasian berfikir seseorang yang dimana dia memiliki fanatisme yang berlebihan , menyalahkan yang tidak sepaham serta dalam keadaan ekstrim bisa mengancam nyawa orang lain. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi radikal, kalau ia memiliki cara pandang yang sempit dalam menafsirkan sesuatu dan dalam penerapannya mengancam hak seseorang.

Indonesia memiliki masyarakat yang heterogen dan memiliki keyakinan yang berbeda-beda dalam beragama sampai berpakaian. Maka seharusnya kita sebagai masyarakat yang baik harus menyadari dan toleransi dari perbedaan ini. Kita tidak bisa menyalahkan ataupun melakukan suatu tindakan yang mengancam hak asasi manusia seseorang untuk bisa hidup di negara ini.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara untuk membantu dalam program de-radikalisasi ini ? Salah satu kuncinya dalam pendidikan. Seseorang berbuat radikal jika dipertemukannya kebodohan dan hilangnya kontrol berfikir, serta disisi lain yaitu kurangnya kualitas pendidikan yang didapatkan oleh seseorang yang membuat seseorang dapat berbuat ekstrim. Maka dari itu sistem pendidikan kita haruslah merujuk pada kesadaran seseorang dapat berfikir dari sudut pandang yang lain sehingga terciptalah berfikir yang lebih terbuka.

Selain itu lembaga pendidikan harus membuka gerbang seluas-luasnya dalam hal mengemukakan pendapat guna mengintervensi ataupun pengambilan keputusan, jangan seenaknya sendiri mengecap bahwa suatu ide itu adalah salah. Jika lembaga pendidikan berhasil melaksanakan itu maka akan tercipta budaya saling berdebat dengan cara yang baik.

Disisi lain negara janganlah melakukan tindakan-tindakan yang cenderung militeristik dan tangkap sana tangkap sini dalam melawan radikalisme (jika tidak dalam keadaan melawan hukum dan mengancam nyawa), hal itu dapat membuat pemahaman radikal ini semakin kuat. Jadi pada akhirnya radikalisme bisa kita atasi dengan salah satunya  pendekatan pendidikan. Jika masyarakat sudah terbiasa dengan keberagaman dan perbedaan maka akan terbentuk budaya toleransi dan saling menghargai walaupun berbeda pandangan, selain itu dapat membentuk budaya diskusi dan berdebat dengan cara yang baik.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia