x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Berbeda Pemahaman


Radikalisme tentunya sudah tidak jarang lagi terdengar di telinga kita. Lebih lagi dewasa ini tengah hangatnya permasalahan terkait radikalisme. Dan yang paling disorot adalah umat islam.

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita berangkat dari pegertian radikalisme itu sendiri. Pengertian radikalisme diantara satu pihak dengan yang lainnya tidak satu sudut pandang. Sedangkan menurut kbbi, radikalisme memiliki makna paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara drastis atau mendalam. Radikalisme dikatakan sebagai sesuatu yang sangat mendalami entah kecintaan atau hal-hal lain yg terlalu mendalam atau fanatisme.


Radikalisme bisa berupa hal yang negatif, dan dan tidak menutup kemungkinan bahwa radikal itu positif. Radikalisme jika dalam hal baik dianjurkan, beda dengan radikalisme yang negatif.


Misalnya dalam islam, mendalami agama sangat dianjurkan dalam islam, bahkan sebuah keharusan. Seseorang yang bercadar belum tentu disebut sebagai radikal, karena bisa jadi itu adalah caranya dalam mendalami agama. Namun ada pihak yang malah menyalahkan hal tersebut sebagai radikal, dengan tanpa pemahaman yang mendalam. Maka hal ini tidak bisa dikatakan sebagai radikal yang negatif.


Bagaimana dengan radikal yang negatif? Radikal yang negatif adalah radikal yang bertentangan dengan agama. Saat ini dunia terlalu menyorot bahwa islam itulah yang membawa paham radikal, termasuk terorisme. Dalam islam sangat menjaga yang namanya perdamaian, bahkan terhadap orang tua saja tidak boleh berkata "ah" dan perkataan yang menyakiti hatinya. Lalu bagaimana bisa islam dikatakan sebagai agama yang dengan mudahnya membunuh sesama manusia?.
Seperti pengertian diawal, radikalisme itu merupakan kecintaan yang mendalam terhadap sesuatu. Orang yang memakai rok mini pun memiliki kecintaan yang mendalam terhadap apa yang dipakainya. Lantas mengapa hanya islam yang sangat di judge sebagai paham yang memegang radikalisme?
Pandangan dan jalan hidup yang diambil setiap orang berbeda-beda. Entah itu dalam menerapkan mazhab hanafi, hambali, dan lain semisalnya. Hal ini merupakan pilihan dan privasi setiap individu. Pihak luar tidak seharusnya membatasi dan mengekang akan hal ini karena merupakan hak bagi setiap orang.


Radikalisme dapat dicegah dengan pengkajian dan pendalaman kembali keilmuan kita tentang keislaman, juga dengan memperbaiki kembali kedekatan kita kepada Allah. Lalu, radikalisme manakah yang ingin dicegah? Ini kembali kepada pemahaman kita masing-masing mengenai radikalisme. (Nabilla Fitri, UINSGDBDG, KPI 18C)

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia