x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Berantas Akar Intoleransi dengan Pembenahan Diberbagai Lini

oleh: Sri Sulistina

Intoleransi merupakan tindakan tidak sepakat atau tidak menghargai akan perbedaan yang dikemukakan oleh orang lain, menjadi trending topik yang mengalahkan isu politik. Hingga saat ini kasus intoleransi merembak ke segala arah, tidak hanya pada ranah politik pada lini terkecil seperti pelajar bahkan anak-anak juga tercemari oleh kasus intoleransi. Kegiatan sehari-hari yang dianggap biasa, sebenarnya mengandung bibit-bibit intoleransi jika dibiarkan begitu saja, contohnya anak-anak memiliki faham jika ia diejek atau dihina dia boleh membalas dengan ejekan atau hinaan kembali, seakan itu sudah menjadi hal yang lumrah bahkan hingga menyebabkan mereka bertengkar. Disini peran orang tua sangat di butuhkan untuk menciptakan suasana perdamaian pada keluarganya, karena jika anak tidak merasa damai dikeluarganya maka ia juga tidak akan merasa damai di luar rumahnya.

Begitu pula dengan orang tua kedua di sekolah, peran guru juga sangat dibutuhkan untuk mengontrol para siswanya dan memastikan jika mereka tidak terpapar kasus intoleransi. Mulai dari hal terkecil misalnya perbedaan pendapaat yang dilontarkan lawan bicaranya saat berdiskusi. Mereka harus diajarkan untuk menghargai perbedaan pendapat temannya.

Ditengah kisruhnya politik, radikal dan intoleransi mengusik ketentraman negeri. Ujaran kebencian hingga hoaks yang bertebaran di media sosial, jadi catatan tersendiri mulai dari elit politik hingga masyarakat bawah. Isu politik tidak luput jadi ancaman perpecahan bangsa, sikap publik yang kian terbuka terhadap pilihan politik jadi hal yang patut dicermati. Radikal dan intoleran mengintai bangsa dengan beragam cara, mulai dari media sosial hingga kehidupan nyata mulai dari ujaran kebencian bahkan teror yang merenggut nyawa. Kebebasan akademik yang ada di kampus jangan sampai di nodai atau di cemari, apalagi mengisi dengan aktivitas yang terkait tindakan radikalisme dan terorisme.

Langkah yang baik bukan dengan saling salah menyalahkan satu sama lain, cukup mengambil peran masing-masing sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya. Mulai dari aspek pendidikan harus menerapkan nilai-nilai kebhinekaan, dan menjadikan sekolah sebagai tempat strategis untuk membangun kesadaran dalam bertoleransi. Pemerintah diharapkan memperlakukan semua golongan setara tidak berat sebelah, apalagi sampai mengutamakan golongan mayoritas yag mereka kehendaki. Menguatkan lembaga hukum untuk mempertegaskan peraturan yang telah dibuat, kesenjangan dalam ekonomi juga menjadi pemicu adanya intoleransi. Pemerintah diharakan dapat menyamaratakan sumber daya alam diberbagai tempat dengan pembagian lahan pada masyarakat adat dan mengurangi kesenjangan sosial.

Jauh lebih dulu Islam mengajarkan toleransi sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Kafirun ayat terakhir lakum dinukum wa liya din. Jika diterapkan pada saat ini kita harus saling menghormati dan menghargai dalam ranah sosial, saling bahu membahu tidak boleh apatis apalai sampai agresif. Pemikiran-pemikiran Gus Dur Islamku, Islam anda dan Islam kita juga memberikan pembelajaran kepada kita dalam bertoleransi.

Mahasiswa KPI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Bojonegara, Kota Cilegon Serang Banten
089603375751

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia