x
BREAKING NEWS

Selasa, 24 Desember 2019

Antara Tahun dan Harapan Baru

Oleh : Raihan Aqhsal Arighi   

Hari demi hari terus berlalu,dentingan jam menandakan waktu terus melaju,berjalan memberikan kepastian. Tidak terasa saat ini tengah berada di ujung tahun, Desember kelabu akan segera berlalu,berganti tahun seiring dengan ledakan kembang api, pekikan terompet, dan hitung mundur yang diucapkan bersamaan. Di sudut lain lantunan do'a dan munajat senantiasa terdengar lirih di sudut masjid, mengiringi akhir tahun dan menyambutnya dengan penuh do'a dan pengharapan.

 

Ujung tahun harusnya menjadi catatan penting yang mesti jadi pelajaran untuk melangkah di hari esok, hal ini tentu berlaku untuk semua, tak terkecuali kaula muda atau di era revolusi industri 4.0 terkenal dengan julukan generasi milenial. Tahun baru bukan ajang adu pamer, berapa kembang api yang akan di nyalakan, berapa terompet yamg akan ditiup. Tapi tahun baru adalah ajang untuk memperbaiki kualitas kehidupan pribadi. Muhasabah atau introspeksi diri adalah hal yang tepat, sebagai perwujudan dari rasa syukur dan juga terciptanya masa depan yang jelas.

 

Menjadi generasi milenial tidaklah mudah. Milenial tidak hanya dituntut untuk berprestasi dan pintar di bangku sekolah maupun universitas,tetapi dewasa kini milenial disuguhi berbagai tantangan zaman yang mau tidak mau harus ditaklukan. Karena pilihanya hanya dua. Pertama hidup mulia, karena mampu menjawab tuntutan zaman, kedua mati hina, karena dijajah oleh tuntutan zaman.

 

Lulus dibangku kuliah dan mendapat gelar sarjana bukanlah hal yang luar biasa lagi, momen sarjana yang dulu ditunggu-tunggu kini menjadi momok yang menakutkan karena kini bukanlah hal mustahil banyak sarjana yang menjadi pengangguran. Maka dari itu ada beberapa oknum mahasiswa yang enggan buru-buru menyelesaikan studinya karena melihat reaita dilapangan begitu banyaknya sarjana yang nganggur. Sarjana seharusnya menjadi pelopor perubahan. Di dunia kampus agent of change kerap kali di gaungkan mahasiswa untuk menunjukan citra dan jati diri. Tapi setelah selesai studi banyak tanda tanya besar yang tersirat maupun tersurat langkah apakah yang mesti dilakukan selanjutnya.

 

Ya,hidup memang tidak pernah lepas dari yang namanya pilihan. Ditengah gemerlapnya revolusi industri 4.0 dan juga semaraknya pesta pasar bebas dunia terbuka secara meluas. Tantangan-tantangan yang demikianlah yang akan menjadi penentu akan kondisi kehidupan generasi milenial,hidup muliakah atau mati terhina. 



Raihan Aqhsal Arighi

Mahasiwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung


(Tulisan ini pernah dimuat di MediaIndonesia.com pada tanggal 24 Desember 2019)


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia