x
BREAKING NEWS

Kamis, 19 Desember 2019

Antara Asap, Dosa Manusia dan Kemurkaan Tuhan

Di penghujung tahun ini Indonesia menghadapi masa-masa sulit bersama asap. Keadaannya makin runyam karena rakyat yang menderita tidak hanya di satu atau dua daerah saja, melainkan hampir di seluruh sisi negeri ini. Peliknya, daerah-daerah yang selama ini "baik-baik saja" sekarang ikut terbakar dan tertular bencana asap.

Sebut saja Riau, Jambi, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi, NTT, Papua, bahkan mayoritas provinsi di Ibukota baru pun turut berasap. Kita belum berbicara tentang hutan Amazon yang "katanya" merupakan bencana kebakaran hutan terbesar di tahun ini. Kita harus sibuk menyelamatkan negeri sendiri.

Karena sudah hampir semua penjuru negeri ini berasap, kita sampai tidak hafal lagi provinsi mana saja yang telah hangus. Mirisnya, di saat kebakaran ini terus melanda, pemerintah malah sibuk mengusulkan Karhutla sebagai bencana nasional, bukannya mencari solusi dan bersama turun ke lapangan menjinakkan Si Jago Merah.

Para pimpinan dan Presiden pula sibuk menebar ancaman berupa pemecatan pejabat. Apakah mereka takut? Belum tentu. Jikapun dipecat toh mereka masih banyak uang tabungan. Harusnya pimpinanlah yang turun tangan ke lapangan dan merasakan sesaknya menghirup asap. Atau para pimpinan mau ikut-ikutan siswa "libur sekolah"?

Belum ada cerita atau bahkan legenda sekalipun bahwa api bisa hidup sendiri, kecuali api neraka. Tentu saja, api-api yang berevolusi menjadi asap pekat adalah ulah manusia-manusia pintar, cerdas, dan yang tidak takut dengan apapun, bahkan dengan Tuhan sekalipun.

Kalau sudah seperti itu, tidak ada gunanya mengancam para pelaku pembakaran hutan dan lahan! Diancam 10 tahun penjara, 12 tahun, atau 20 tahun penjara sekalipun jika dari undang-undangnya belum begitu "sangar" maka akan percuma.

Sejenak kita lihat peraturan yang mengatur tentang perlindungan lingkungan berikut ini:

"Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) ditegaskan bahwa setiap orang dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Namun membuka lahan dengan cara membakar diperbolehkan asalkan dengan memperhatikan kearifan lokal daerah masing-masing."

Di awal pernyataan tampak ada penegasan bahwa membakar lahan itu dilarang, namun ujungnya masih diperbolehkan dengan pertimbangan kearifan lokal. Kearifan lokal dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektar per kepala keluarga. Dengannya, manusia akan leluasa membakar lahan tanpa harus takut masuk penjara. Entah itu untuk keperluan membuat rumah dan kebun, atau bahkan untuk membuat pabrik. Uniknya, membakar lahan itu tak perlu sampai pikir panjang. Bahkan hanya butuh korek api saja, Si Jago Merah akan bangkit. Apalagi saat ini sedang kemarau dan kekeringan.

Hasilnya, banyak dari pembakaran lahan itu yang "kelewatan" luasnya. Dan inilah yang membuat para pembakar menanggung dosa besar. Terserah jika mereka tak takut dengan Tuhan, berarti dosa mereka akan terus bertambah.

Lihat saja bagaimana perjuangan Puskesmas yang sekarang sudah buka 24 jam di daerah darurat asap. Lihat pula berapa banyak penderita ISPA bertambah setiap jamnya, berapa banyak binatang yang mati karena asap. Dan lihat pula berapa banyak cacian-cacian bahkan sumpah serapah yang ditujukan kepada pembakar lahan. Pemerintah masih sempat-sempatnya tersenyum lapang! Jelas ini adalah kekejian dan kemungkaran. Harus ada palu raksasa yang tajam dan bisa untuk mengetuk hati para penebar kemungkaran ini.

Jika pemerintah menetapkan Karhutla sebagai bencana nasional, maka saya menetapkannya sebagai bentuk kemurkaan Tuhan. Ya, kemurkaan Tuhan terhadap orang-orang yang sudah tidak takut dengan Tuhan. Kemurkaan Tuhan terhadap para pimpinan yang tidak amanah menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Sedihnya, kemurkaan ini berdampak kepada semua makhluk, baik yang bersalah maupun tidak bersalah. Lihat saja negara tetangga yang ikut merasakan dampaknya asap. Padahal mereka tidak ikut-ikutan membakar hutan dan lahan di Indonesia.

Lihat pula ular-ular, orangutan, hingga pepohon yang menemui ajalnya secara tragis. Dan lihat juga di sekeliling kita. Orang-orang yang selama ini tidak bersalah, kuat imannya, bahkan selalu rela, ikhlas, dan sabar menebar kebaikan ikut-ikutan mendapatkan azab Tuhan.

Sungguh "ngeri" kemurkaan Tuhan ini, hingga kerusakan di negeri ini bertentangan dengan logika. Kerugian-kerugian negara tak terhitung. Air mata rakyat yang jatuh tak sempat tertampung. Dan makhluk-makhluk yang terenggut nyawanya tak kunjung mengetuk hati.

Jalan terbaik untuk segera mengakhiri bencana ini adalah dengan terus berikhtiar dan untuk segera mengakhiri bencana ini adalah dengan terus berikhtiar dan berdoa tanpa putus. Nanti dulu berpikir tentang untung rugi. Nanti dulu mencari pencitraan.

Sekarang kita butuh keteladanan sepenuh hati para pimpinan negeri. Kita butuh empati semua rakyat. Dan untuk mendapatkan keduanya kita butuh pertolongan Tuhan, dengan cara berdoa dan kembali ke jalan yang benar.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia