x
BREAKING NEWS

Senin, 21 Oktober 2019

Membakar tak punya hati, Membiarkan tak punya nyali. Sampai kapan?

Oleh : (Dhaifina Jamil Nadhilah)

        Sudah tak asing lagi di telinga kita. Fenomena kebakaran hutan dan
lahan gambut setiap tahun yang biasa terjadi, dari kalangan rakyat
hingga para petinggi negeri. Mengingat diantara kebakaran hutan dan
lahan yang terjadi di beberapa di Tanah Air seperti Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Riau dan Jambi.

        Kebakaran yang menjatuhkan beratus – ratus korban karna ulah oknum -
oknum yang sengaja membakar hutan dan lahan gambut tersebut. Padahal
sudah jelas, pemerintah sudah mempunyai aturan tentang Kehutanan,
Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang perkebunan. Adapun pasal
69 Undang – undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) mengenai larangan melakukan
pencemaran, memasukkan benda berbahaya dan beracun (B3), memasukkan
limbah ke media lingkungan hidup, melakukan pembukaan lahan dengan
cara membakar, dan lain sebagainya.

        Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan tersangka, paling
banyak terdapat di Kalimantan Barat (56 orang), lalu Kalimantan Tengah
(45 orang), Riau (44 orang), Sumatera Selatan (18 orang), Jambi (14
orang), serta Kalimantan Selatan (1 orang).
Area hutan dan lahan yang terbakar yaitu 502,755 hektare di Riau, 7,79
hektare di Sumatera Selatan, 23,54 hektare Jambi, 338,96 hektare di
Kalimantan Tengah dan 1.058,55 hektare di Kalimantan Barat.

        Warga mengeluhkan dengan kehadiran asap yang semakin hari, semakin
pekat. Kondisi kesehatan warga pun ada yang batuk – batuk sampai batuk
tersebut tanpa henti. Dan didiagnosa dokter mengidap penyakit ISPA
(infeksi saluran pernapasan)

        Sudah jelas sekali, kini hutan dan lahan terbesar di Indonesia yang
menjadi iconic " Paru – Paru Dunia" itu telah terbakar. Karna oknum –
oknum yang hanya ingin menguasai tanpa melihat kesekitarnya. Kebakaran
hutan dan lahan yang berulang, pemerintah pun hanya rebut soal
pemadaman, bukan pada persoalan, seperti pencabutan izin bagi
perusahaan – perusahaan mereka yang mengalami kebakaran.

        Menjadi pelajaran bahwa Negara yang memiliki keindahan dan pesona
alam yang indah ini dan pemerintah yang kurang memperhatikan pihak –
pihak yang dirugikan dari kebaaran hutan. Yaitu, Masyarakat. Khususnya
masyarakat adat atau desa yang bermukim di sekitaran kebakaran
tersebut. Karna sering nya terpapar asap yang membahayakan kesehatan
dan jiwa mereka. Mereka pun menunggu kepastian dan keadilan agar tidak
terulang lagi kebakaran hutan dan lahan. Jangan sampai, "Rakyat
menutup Hidung, Penguasa menutup Telinga" Wallahu A'lam.

Penulis, Mahasiswi KPI UIN SGD Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia