x
BREAKING NEWS

Selasa, 08 Oktober 2019

Masjid belum sepenuhnya mati, Fatur-rohman saksinya

                                                               Oleh: Siti Zulfania Arifin

Tak hanya berfungsi sebagai tempat sarana ibadah, Masjid Fathur-Rohman juga berdiri kokoh dari sejak tahun 1988 hingga sekarang sebagai tempat kajian ilmu yang ramai. Di masa modern ini, sering kita jumpai banyak masjid namun kurang dirawat dan diramaikan masyarakat. Berbeda dengan Masjid kebanggaan Antapani ini, awalnya Masjid Fatur-Rohman hanyalah masjid kecil dari banyaknya masjid-masjid lainnya. Namun berkat ketekunan warga, masjid ini kini menjadi salah satu masjid teraktif di kecamatannya.

"Kita ada pengajian umum dan khusus. Dari mulai anak-anak sampai orangtua. Yang anak-anak itu biasanya ke TPA dari Senin sampai Jum'at, pengajian  umum diadakan sebulan dua kali sama seperti kajian bapak-bapak, kalau ibu-ibu seminggu dua kali, remaja juga ada tiap ba'da maghrib. Pembahasannya dari mulai fiqih, tahsin, tilawah, sampai kitab." Ungkap Suhendra, selaku ketua DKM Fatur-Rohman.

Menurut Suhendra, sikap dan kepribadian masyarakat bisa saja bermacam-macam, namun faktor keunggulan internal dan eksternal DKM Fatur-Rohman dalam menggerakkan umat juga perlu diperhatikan. Misalnya, rajin mengajak tetangga terdekat untuk ke masjid, sering memberi pengumuman shalat berjama'ah dan kajian lewat speaker secara rutin, memberi surat undangan pengajian, dan masih banyak lagi. Faktor eksternal seperti mengundang ustadz-ustadz 'menarik' menjadi salah satu kekuatan DKM ini.

"Kalau bulan Ramadhan itu biasanya paling ramai kegiatannya, dari mulai pengajian yang waktunya relatif lebih sering sampai lomba-lomba seperti tilawah Al-Qur'an, kaligrafi, fashion show, dan perlombaan lainnya. Intinya ya kegiatannya insya Allah bermanfaat dan menambah ilmu. Shalat aja butuh ilmu dan ilmu itu perlu dicari, salah satu cara pencariannya ya dengan mengadakan kajian dan memakmurkan masjid." Suhendra berucap.

Selain itu, Suhendra juga berharap kegiatan selalu bisa berjalan optimal sehingga wawasan keilmuan umat juga lebih berkualitas. Agama adalah sebab dari dunia, sedangkan akhirat adalah konsekuensinya. Suhendra menginginkan lebih banyak lagi partisipan walau di masa milenial ini memang dirasa cukup sulit.

Penulis, Mahasiswi UIN Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia