x
BREAKING NEWS

Selasa, 22 Oktober 2019

Fwd: BPJS naik! Apa warga yang menjadi tumbal?


---------- Forwarded message ---------
Dari: Faisalkhidir Amirulloh <faisalkhidira@gmail.com>
Date: Sel, 22 Okt 2019 06.26
Subject: BPJS naik! Apa warga yang menjadi tumbal?
To: <dakwahpos.kirim@blogger.com>


Oleh : Faisal Khidir Amirulloh

Setelah keluarnya UU No.24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) yang merupakan lanjutan dari UU No.40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional (SJSN). Ini menjadikan sebuah kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, khususnya dari kalangan menengah kebawah, karena nantinya mereka akan dijamin se-masa sakitnya oleh Pemerintah lewat BPJS kesehatan tersebut, dengan syarat harus sah menjadi dari anggota BPJS kesehatan setelah melalui proses pendaftaran.
Namun, dari tahun ke tahun ini BPJS kesehatan tidak pernah terlepas dari permasalahan defisit anggaran. Bahkan pada tahun 2015 defisit meningkat drastis menjadi 9,4 triliun, dari tahun sebelumnya yang hanya 1,9 triliun. Ini yang berdampak hingga tahun sekarang defisit terus melonjak naik, sehingga muncul berita rencana kenaikan iuran BPJS naik hingga seratus persen. Lantas apakah Masyarakat yang menjadi tumbal, agar defisit itu tertutupi?
Dengan naiknya BPJS kesehatan ini, pemerintah tidak akan tinggal diam, karena kembali pada tujuan di sahkannya BPJS kesehatan ini, yaitu untuk mensejahterakan jaminan sosial masyarakat terkhusus masyarakat dari kalangan menengah kebawah. Kemenkeu mengatakan bahwasannya dengan naiknya iuran BPJS Kesehatan ini tidak akan memberatkan kepada masyarakat kecil, sebab masyarakat pengguna BPJS  diperkenankan untuk dapat pindah ke kelas-kelas tertentu sesuai kemampuannya. Tetapi semua itu dapat dilakukan dengan sesuai proses yang telah ditentukan oleh pemerintah. Oleh karena itu masyarakat jangan merasa menjadi tumbal atas naiknya iuran BPJS ini!
Kenaikan iuran BPJS kesehatan ini tidak sepenuhnya kesalahan ada pada pemerintah. salah satu penyebab kenapa BPJS kesehatan ini mengalami defisit dari tahun ketahun dikarenakan banyaknya Masyarakat yang membayar Iuran hanya ketika sakit saja, setelah itu tidak ada pembayaran lagi, sehingga menyebabkan ketidak seimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Oleh karena itu saran  saya pemerintah harus lebih tegas lagi menindak masyarakat yang jarang bayar iuran agar tidak muncul hal-hal pikiran negatif dari masyarakat terhadap pemerintah terkhusus Kemenkeu Sri Mulyani.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia