x
BREAKING NEWS

Senin, 21 Oktober 2019

Defisit BPJS, Salah Kita Juga.

Defisit yang melonjak hingga triliunan menyebabkan iuran BPJS harus mengalami kenaikan. Kabarnya, besaran kenaikan iuran ini mencapai 100 persen untuk peserta mandiri kelas 1 dan 2, kemudian 65 persen untuk kelas 3 dimana hal ini sudah pasti akan menuai pro kontra dari masyarakat. Besaran kenaikan iuran ini merupakan usulan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Permasalahan defisit yang sudah melanda BPJS sejak tahun 2014 ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adverse selection pada peserta mandiri, besaran iuran yang terlanjur underpriced, serta belum mapannya sistem yang dimiliki BPJS Kesahatan pada sektor strategic purchasing dan manajemen klaim.
Terlampau banyak peserta mandiri yang hanya sudi registrasi ketika memerlukan layanan kesehatan dan enggan membayar iuran lagi ketika sembuh, bagai peserta arisan yang kabur setelah ia mendapat giliran menang. Bahkan Kementrian keuangan memaparkan pada akhir tahun 2018, peserta mandiri yang aktif hanya sekitar 53 persen. Dan dari tahun 2016 sampai dengan 2018, besar tunggakannya menyentuh angka Rp15 triliun. Pada tahun itu rasio klaim peserta mandiri adalah 313%. Total klaim mencapai Rp27,9 triliun, ironisnya total iuran yang berhasil dikumpulkan hanya Rp8,9 triliun saja. Akibat ketidakstabilan itu, tak heran jika tunggakan peserta mandiri ini mencapai triliunan. 
Ditengah kekacauan ini, Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan pun ikut-ikutan memberikan solusi dengan meminta bantuan pada sebuah perusahaan asuransi asal Cina, yakni Ping An Insurance.

Menurut saya, solusi yang beliau tawarkan kurang tepat karena tidak akan menyelesaikan akar dari permasalahan: yakni underpriced dan adverse selection peserta BPJS. Hemat saya, alangkah baiknya jika pihak BPJS dan lembaga terkait fokus saja pada  penyempurnaan sistem yang dirasa belum mapan seperti perbaikan pada sektor manajemen klaim, strategic purchasing, dan efesiensi layanan. Jika pihak BPJS mampu memperbaiki sistemnya dan membuat aturan yang tegas untuk para peserta yang tidak tertib, saya rasa masalah instability ini sedikit demi sedikit bisa teratasi.

Fariz Yusran
Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia