x
BREAKING NEWS

Kamis, 03 Januari 2019

Moderasi Islam Hadir untuk Menghadapi Radikalisme

Era globalisasi datang dengan membawa tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Tantangan yang dimaksud adalah berupa "perubahan" dalam berbagai aspek kehidupan. Dampak dari "perubahan" tersebut tidak hanya membuat teknologi informasi dan komunikasi saja yang menjadi sulit disaring, namun nilai-nilai keagamaan umat manusia dalam kehidupan sehari-hari pun ikut terkena dampaknya. Dalam konteks ini ajaran agama selalu disangkut pautkan. Apakah ajaran agama harus mengikuti era globalisasi ini atau sebaliknya. 

Sebagai agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam, Islam memiliki sifat kaku dan sifat fleksibel. Yang dimaksud dengan kaku adalah bersifat dogma atau tidak bisa diubah oleh apapun karena berhubungan dengan persoalan agama yang bersifat vertikal yang mana tidak bisa atau tidak sanggup diterima di oleh akal hanya dengan keyakinan. Sifat kaku ini mau tidak mau harus diterima apa adanya karena menyangkut dengan ketauhidan atau ke-Esaan Tuhan. Contohnya seperti sholat, puasa, zakat dan lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan fleksibel yaitu sifat yang bisa mengalami perubahan kapanpun selama hal tersebut tidak melenceng dari ketetapan yang sudah ada. Contoh dari sifat fleksibel ini seperti hal-hal yang bersangkutan dengan fenomena sosial dan kemasyarakatan. Karena sifat fleksibel ini lebih adaptif, sifat ini mampu menerima perubahan apapun selama tetap mengacu pada nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran agama.

Untuk menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, dibutuhkannya aturan-aturan atau hukum dalam bentuk nilai-nilai moral secara garis besar. Aturan-aturan atau hukum sendiri berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih tertata dalam mengambil sikap yang tujuan akhirnya adalah untuk menggapai kemaslahatan dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan kemaslahatan tersebut dibutuhkan wahyu dan akal untuk menentukan ketentuan hukum yang diperlukan oleh manusia. Segala ketentuan hukum berlandaskan pada dalil-dalil wahyu. Karena wahyu meliputi persoalan secara umum, maka berbagai macam ijtihad pun tidak dapat dihindari karena dibutuhkan untuk mengungkap berbagai macam persoalan secara mendetail. Tentunya anturan-aturan atau hukum dalam ajaran agama ini dalam prakteknya terkadang menimbulkan penafsiran yang berbeda, bahkan hingga menimbulkan perdebatan. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan ijtihad dari para ulama. Dengan adanya perdebatan tersebut maka sebaiknya dihadapi dengan pemikiran yang bijak agar nantinya mendapatkan jalan tengah sebagai pemersatu.

Salah satu masalah yang dihadapi adalah mengenai radikalisme agama. Radikalisme meupakan paham yang cenderung pada perilaku ekstrim. Penyebab adanya radikalisme agama ini biasanya disebabkan oleh wawasan agama yang kurang, faktor keadaan sosial, fanatiknya seseorang atau suatu kelompok dan lemah dalam melihat realitas kehidupan. Untuk menjawab masalah radikalisme agama ini adalah dengan moderasi Islam yang kuat untuk memelawan paham radikalisme tersebut. Moderasi Islam atau Islam moderat sendiri yaitu merupakan paradigma ijtihad berdasarkan hukum secara umum yang mana menggunakan prinsip adanya toleransi tanpa merendahkan agama lain. Berdasarkan pada konsep Islam yaitu rahmatan lil 'aalamin (rahmat bagi seluruh alam) yang terdapat dalam Q.S al-Anbiya (21): 107 yang berbunyi:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Q.S al-Anbiya (21): 107).

Bermaksud bahwa agama Islam ini dapat memberikan kemaslahatan bagi seluruh alam dan makhluk-makhluknya. Moderasi Islam dalam sistem kehidupan duniawi yang berarti bahwa ada keseimbangan dalam menjaga dan memelihara antara hak-hak asasi manusia dan lingkungan karena kedua-duanya memiliki nilai penting dalam menjaga kelestarian dan kemaslahatan hidup yang berkelanjutan. Kemaslahatan hidup tidak hanya bagi Muslim saja, akan tetapi non-Muslim juga. Moderasi dalam sistem ekonomi contohnya adalah dengan keseimbangan dalam distribusi kekayaan sehingga disyariatkannya zakat dan infaq.moderasi dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang memberikan ketentuan-ketentuan dasar atau pilar-pilarnya saja, sedangkan penerapannya secara detail dan komprehensif tergantung pada kesepakatan dan pemahaman masing-masing berdasarkan keberagaman lokalitas nilai dan sejarah yang dimiliki. Moderasi Islam dalam akidah berarti bahwa umat Islam tidak boleh memaksakan akidahnya pada agama lain, tetapi harus menghormati dan menghargai kelompok agama lain. Dan yang terakhir moderasi dalam bidang hukum yang berarti bahwa pemberlakuan hukum tidak hanya berpijak pada formalitasnya saja, tetapi juga sekaligus substansinya.

Nama : Najma Tasya Ilahy
Alamat : Nuansa Junti Residence A.8 Des. Sangkanhurip Kec. Katapang Kab. Bandung
No.Tlp : 07821483955

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia