x
BREAKING NEWS

Kamis, 27 Desember 2018

Surat Pembaca_Sudut Toleran Moderasi Islam Dalam Paham Ormas Konservatif


Oleh : Wulan Novita Sari

Satu bulan yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah kegiatan. Saya terkesan dengan beberapa orangdalam kegiatan tersebut. Kita semua yang ada dalam kegiatan tersebut tidak segan-segan meskipun kita memiliki paham ormas yang berbeda. Kita sering bertukar pendapat, bersandau gurau. Bahkan suatu ketika ketika teman saya melontarkan kalimat yang isinya lelucon tentang suatu paham. Disana kita anggap biasa saja. Kita merasa tidak permasalahn yang harus diperdebatkan. Meskipun kita semua beda paham. Sikap kita disini netral. Tidak terlalu kritis kekanan dan kekiri. Dapat dijabarkan bahwa kenetralan merupakan suatu konsep moderasi.

Salah satu ajaran utama agama islam yaitu moderat/moderasi atau jalan pertengahan. Pada zaman kontemporer ini, moderasi islam sangat berguna dan penting bagi terciptanya suatu bangsa yang maju akan peradabannya.  Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terletak pada garis merah kelemahan. Kelemahan dari aspek politik, social, budaya serta agama. Kita sebagai umat yang beragama harus menjalankan ajaran-ajarannya serta menentukan kebenaran yang haqiqi. Sebagaimana dengan beragama seseorang bisa menentukan kualitas pribadinya masing-masing bahkan menentukan arah berbangsa dan bernegara yang baik.

Konsep pemahaman Islam Moderat merupakan ajaran yang mesti ditanamkan di Indonesia. Konsep Islam moderat mewakili jawaban dan solusi terhadap seluruh masalah yang dihadapi umat Islam. Sifatnya tidak ekstrim ke kanan, tetapi juga tidak terlalu ekstrim ke kiri. Lebih mengutamakan kebenaran yang bersumber dari Tuhan seperti korelasi anatara wahyu dan akal. Korelasi anatara keduanya juga berpautan dengan keseimbangan antara teks dan konteks.

Pemahaman yang moderat merupakan sebuah keharusan, melihat konteks negara Indonesia beragam akan social, ekonomi, budaya, agama serta ormasnya. Pemikiraan paham yang berada ditengah-tengah merupakan orientasi dari moderasi islam. Islam datang ke Indonesia merupakan agama penyeimbang dari segalanya. Mengingat dahulu Indonesia kental akan budaya animisme dan dinamismenya. Ini merupakan tugas utama, bagaimana islam bisa menolerir budaya yang sudah mendarah daging.

Disamping itu kita dihadapkan dengan sebuah kenyataan masyarakat. Kenyataan akan keberagaman masyarakat  dari aspek suku bangsanya. Suku bangsa dan sejarah yang berbeda antar daerah secara tidak langsung memberi pengaruh dalam pengaplikasian konsep beragama. Seperti bukti dari kisah walisongo di Tanah Jawa, yang pertama kali mengajarkan dan mendakwahkan islam. Islam datang tidak langsung mengubah semua dasar kebudayaan lokal  dengan islam, melainkan mengguanakan pendekatan kultural dengan cara menyisipi agama islam dengan budaya lokal setempat. Sebagaimana kita tahu para pendakwah mempertimbangkan serta menggunakan cara netral. Pendekatan yang sedemikian rupa ini merupakan pendekatan dengan mengedepankan moderasi islam.

Kenyataan lain dari suku bangsa juga dari suatu agama. Mengingat satu-satunya agama yang terbesar di Indonesia adalah agama islam. Namun perlu diketahui bahwa dalam kebesaran Islam di Indonesia. Terdapat banyak ragam syariat yang lahir dari Islam. Seperti yang telah dibahas tadi, bahwa islam merupakan satu-satunya agama terbesar. Mayoritas penduduk Indonesia juga memeluk islam. Allah SWT menurukan satu agama yang disebut dengan Islam (Tauhid). Dalam bertauhid Allah mempunyai wewenang sendiri untuk mengaturnya. Semua Rasul, Nabi, Khalifah dimuka bumi ini mempunyai tujuan yang sama dalam meneggakkan tauhid. Seperti yang telah tercantum dalam Qs Al-Anbiya ayat 25 yang mempunyai arti"Dan kami tidak mengutus seorang pun Rasul sebekum engkau (Muhammad),melainkan kami wahyukan kepaadanya, bahwa tidak ada tuhan (yangberhak disembah)selain aku, maka sembahlah aku".

Setiap yang membawa tujuan penegakkan tauhid pasti memliki karakterisk tersendiri. Meskipun awalnya sama dan ditentukan oleh Allah SWT, namun akan melahirkan pemahaman-pemahaman baru dalam islam. Dari latar belakang ini munculah keneragaman organisasi masyarakay islam yang berbeda-beda syariatnya.

Perlu diingat kembali bahwa keberagaman itu indah. Keberagaman memunculkan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya. Keberagaman akan selalu ada sepanjang kehidupan manusia. Termasuk subjek dan objeknya yaitu manusia dengan alamnya (agama). Allah menciptakan keberagaman manusia beserta pilihannya pasti Allah sudah tahu maksudnya. Tidak akan etis apabila seluruh manusia beserta pilihannya dimuka bumi ini disamakan. Manusia akan selalu tetap berbeda, berselisih, serta berlawanan. Yang demikian ini sudah tercantum dalam Hukum Alam Allah (Sunnatullah). Apapun yang tercantum dalam Sunnatullah tidak akan bisa direnovasi lagi. Hal ini sudah menjadi kaharusan dan ketetapan Allah SWT dalam mengatur apa yang ada dimuka bumi ini. Mengingat keberagaman merupakan sebuah realitas yang ada pada masyarakat yang mana menjadikkannya dasar manusia dalam menjalani permalasahan-permasalahn yang dihadapinya.

Membahas organisasi masyarakat islam tidak jauh keberagaman dalam islam sendiri. Banyak bermunculan ormas-ormas di Indonesia. Diantaranya ketiga organisasi masyarakat islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdataul Ulama (NU), Muhamadiyyah, dan Persatuan Islam (Persis). Menumbuhkan sikap toleran sangat penting agar selaras dengan moderasi islam. Kita sebagai kawula muda harus berorientasi pada kenyataan yang terjadi pada masyarakat saat ini. Kenyataan apa yang sedang dihadapi masyarakat bisa direfleksikan dari kehidupan saya sendiri. Ketika saya merantau ke sebuah kota untuk belajar yang mana latar belakang saya berbeda. Berbeda dalam hal ini bukan agamanya namun ke keyakinan syariatnya dalam sebuah ormas. Di daerah saya belajar, banyak ormas-ormas besar berdiri.  Salah satu diantara ketiganya adalah Nahdatul Ulama (NU), Muhamadiyah, Persatuan Islam  (Persis).

Suatu ketika sedang berjamaah sholat subuh di Masjid Kampus. Imam sholat subuh tersebut latarbelakangnya persis, lalu tidak mencantumkan doa qunutnya didalam sholatnya. Kita sebagai makmum, mengikuti apa yang dilakukan imam. Meskipun keadaan tersebut tidak sama dengan kebiasaan kita, yang mana berbeda dengan latar belakang sendiri. Kita harus tetap menghargai apa yang dia lakukan. Kita tidak perlu memperdebatkan mengapa tidak menggunakan ini, tidak menggunakan itu.

Kita tahu bahwa setiap orang, setiap ormas memiliki cara tersendiri yang dinamakan syariat dalam melakukan apa yang mereka yakini pada ormas mereka. Disisi lain ketika penentuan hari besar ataupun menentukan hilal pertama kali, biasanya Muhamadiyah lebih dahulu menjalankan ibadah puasa dan hari raya, bagi NU yang berbeda sehari juga harus toleran. Tidak harus mengukuhkan untuk puasa tanggal sekian. Hari raya tanggal sekian. Namun disini kita dituntut lebih dewasa dalam berfikir netral, berfikir ditengah-tengah konsep yang sangat kuat. Kenetralan kita dalam berfikir secara tidak langsung mencantumkan konsep moderasi islam.

Mengenal kata moderat atau moderasi itu berbeda. Moderat bisa dikatakan sebagai sebuah konsep. Maksudnya konsep bahwa islam yang baik itu yang berada ditengah-tengah. Ditengah-tengah antara dua golongan yang ekstrim. Tidak berpihak antaranya keduanya. Selanjutnya moderasi itu seperti aksiologi atau penerapannya dalam kehidupan masyarakat.. Dalam konsepnya kita harus mempunyai pemikiran-penikiran yang berada ditengah-tengah. Bisa dikatakan netral.

Moderasi dalam bahasa arab dikatakan al-wasatah yang mempunyai arti ditengah-tengah. Dengan hal ini kita harus mengedepankan pemikiran netral. Begitu pula menyikapi semua permasalahan atau perbedaan dari keberagaman syariat dalam sebuah orma. Sesuai dengan judul yakni kita perlu mengutamakan toleransi dalam sudut pandang moderasi islam. Toleransi dirasa sangat penting. Mengingat bahwa golongan toleransi berarti mereka yang berada ditengah-tengah dalam menghargai suatu permasalahan.

Bentuk moderasi dari sudut toleran yakni seseorang tersebut harus menerima berbagai keberagaman agama, madzhab, pandangan, bahkan organisasi masyarakat islam itu sendiri. Meskipun kita berbeda dalam hal pemahaman. Namun kita tetap satu yaitu islam. Maka disini kita dituntut. Bagimana menjaga aspek toleran agar antara satu ormas dengan ormas lain bisa saling hidup rukun bersinambungan. Pada dasarnya seluruh agama itu membawa pada keselamatan. Sebagaimana kita tahu dalam agama islam itu sama, namun syariat setiap ormaslah yang menjadikannya berbeda.

Apabila kesinambungan toleran antara satu ormas dengan ormas lainnya berjalan dengan benar. Pasti secara alami peradaban atas kemanusiaan akan berjalan dengan sendirinya. Pembuktian lainnya dapat dilihat dari kesinergisan pemikiran ormas-ormas di Indonesia. Dengan demikian untuk membangkitkan peradaban kemanusiaan agar lebih maju memelukan kunci. Kunci utamanaya terletak pada sudut toleran kita, bagaimana menyikapi perbedaan syariat antara beberapa ormas lainnya dalam islam. Hal ini sesuai dengan konsep moderasi dilihat dari perspektif toleransi.

Wulan Novita Sari
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia