x
BREAKING NEWS

Kamis, 20 Desember 2018

RESENSI BUKU

Judul buku : Epistemologi Tasawuf 
Penerbit : PT Mizan Pustaka 
Penulis : Haidar Bagir 
Tahun terbit : 2017 
Jumlah halaman : 186 halaman 
ISBN : 978-602-441-059-9 
 
Resensi 
Modernisme memberikan dampak yang luar biasa hampir keseluruh tradisi keilmuan. Tak terkecuali tradisi yang berkembang di kalangan islam. Dengan justifikasi bahwa sebuah ilmu di angkap ilmiah jika bisa di jelaskan secara rasional, maka apapun yang di anggap irrasional tidak bisa diterima.
Mistisisme menjadi satu-satunya tradisi keilmuan islam yang mendapat serangan hebat ini. Sebab, ada tudingan bahwa pengetahuan mistis tidak bisa di jelaskan secara logis. Karena itu terlalu abstrak untuk dijelaskan. 
Buku epistimologi tasawuf menjelaskan bahwa asumsi itu tidak benar. Dengan menggunakan pendekatan filsafat hikmah yang di kembangkan oleh mulla sadra, pengetahuan mistis bisa dijelaskan secara filosofis rasional sehingga bisa menjadi sumber pengetahuan yang ilmiah. 
Bahkan, dalam tradisi filsafat mulla sadra inilah rasionalitas mendapatkan tempat yang istimewa dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Padahal keduanya sering di anggap tak pernah sejalan. 
Buku ini terbagi menjadi tiga bagian . pada bagian pertama, penulis menyoroti tentang kemunculan mistisisme yang justru semakin menjamur di era modern sekarang ini. Sebuah fenomena yang paradoks. Sebab, agama atau bentuk spiritual apapun diduga akan semakin tidak memiliki tempat di era modern. Dalam fase inilah, sampai kapanpun, manusia akan selalu merindukan perasaan-perasaan intim yang hanya bisa di dapatkan dalam praktek-praktek ke agamaan maupun spiritual.
Pada bagian kedua, Haidar bagir menjelaskan tentang filsafat hikmah dan filsafat-filsafat mistis yang memengaruhinya. Filsafat hikmah (al-hikmah al-mu'taaliyah adalah suatu aliran filsafat islam hasil sintesis dari beberapa aliran pemikiran yang mendahuluinya meliputi ilmu kalam (teologi dialektik). Filsafat peripatetik (masysya'iyah) dan terutama teori wahdah al-wujud ibn arabi dalam irfan dan filsafat iluminasi (isyraqiyyah) suhrawardi. 
Pada bagian terakhir, penulis menjelaskan tentang pengetahuan presensial dan kaitannya dengan pengetahuan mistis. Di dalam epistimologi islam, dikenal istilah al-ilm al-hushuli dan al-ilm al-hudhuri. Yang pertama mengacu kepada pengetahuan yang di hasilkan dari proses representasi. 
Dalam hal ini, objek pengetahuan yang berada di luar melalui proses representasi atau abstraksi diterima oleh akal sehingga akal tahu akan objek tersebut. Sedang dalam pengetahuan kehadiran, tanpa ada proses representasi. Jadi, sebuah objek pengetahuan hadir dalam diri seorang "subjek" (yang mengetahui) sehingga terjadi kesatuan eksistensial subjek-objek dalam proses mengetahui. 
Pengetahuan mistis, menurut mulla sadra, termasuk dalam jenis pengetahuan presensial. Sebab, ia tidak memerlukan perantara berupa konsep-konsep mental. Jenis pengetahuan ini ketika kita sedang merasa cemas atau sakit, kita bisa menyadarinya secara langsung tanpa lantaran forma atau konsep mental apapun. 
Oleh sebab itu, pengetahuan ini bukan pengetahuan yang biasa dikenal oleh para teolog maupun filosof. Pengetahuan ini serupa dengan pengetahuan tuhan tentang segala sesuatu yakni bersifat kehadiran. 

Nama : Cici Marlina 
Kelas : KPI 3A
NIM : 1174020031 

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia