x
BREAKING NEWS

Rabu, 19 Desember 2018

Menjadi Konservatif Serupa Menyumbangkan Kebodohan Pada Peradaban



Sejatinya islam merupakan agama yang moderat, hal ini tercantum jelas dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 143. Dalam ayat itu tercantum  bahwa Allah berfirman,:

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat islam) "umat pertengahan" agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik kebelakang. Sungguh (pemindaha kiblat) itu sangat berat. Kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha pengasih lagi maha penyayang." (Al-Baqarah [2]: 143)

Seperti itulah firman Allah yang tercantum dala Al-Quran, dengan begitu saya dapat mengambil kesimpulan bahwa sejatinya islam bukanlah agama yang konservatif, tertutup dan tak pernah mau menerima pandangan dari pihak manapun. Islam adalah agama yang terbuka, terbuka untuk berdialog dengan dunia luar, berdialog dengan kaum lain, dan tidak berpihak pada pihak manapun baik pihak kanan maupun kiri. Saya juga kemudian tahu bahwa islam adalah agama yang berada di posisi tengah, netral dan tidak memihak siapapun, seharusnya dengan kondisi seperti ini islam dapat dengan mudah menerima arus globalisasi dan perkembangan zaman.

Salah satu kata motivasi yang saya suka adalah "Jangan pernah menyumbang kebodohan pada peradaban, hanya karena kamu tidak membaca". Saya selalu mengartikan bahwa membaca disini adalah bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca segala instrument yang ada di dunia ini. Membaca keadaan sekitar, membaca situasi, membaca kondisi, membaca perubahan zaman, membaca karakteristik manusia, membaca isu-isu disekitar kita dan membaca segala hal yang ada dunia ini. 

Pada faktanya ketika islam berkembang menjadi islam yang konservatif, islam yang selalu menutup mata, menutup pikiran, dan menutup hatinya pada hal-hal yang terus mengalami perkembangan secara signifikan, maka bisa dipastikan muslim yang seperti itu adalah muslim yang menyumbang kebodohan terhadap peradaban islam. Bagi saya paham konservatif  islam inilah yang harus segera dibenahi, karena bagaimana islam mampu berkembang ketika islam terlalu ekstrem dan tidak mau membaca keadaan dunia tidak mau berdialog dengan dunia sedang dunia terus berubah.

Ketika saya membaca sejarah dunia, saya mulai memahami mengapa peradaban barat mampu bangkit dari "Dark Age" (masa kegelapan) yang melingkupinya. Pada masa itu islam berada dalam puncak kejayaanya ketika barat justru terbelakang. Lalu mengapa masa keemasan itu seolah berbalik? Islam yang dahulu jaya seolah redup bila dibandingkan dengan peradaban barat saat ini. Mungkin inilah akibatnya jika islam terlalu konservatif dan tidak mau berubah. Padahal para ulama dan pembaharu terlah menganjurkan kepada umat muslim sejak lama untuk senantiasa behenti bersikap taklid dan membuka lebar pintu ijtihad. Maksud dari para pembaharu itu adalah agar islam kembali pada jati diri aslinya yang bersifat moderat bukan konservatif. Sehingga moderasi islam itu penting.

Menurut saya ketika generasi muda muslim pada saat ini sering berkutat pada gadget yang dimilikinya, dan hobi berselancar di dunia maya juga dunia internet, seharusnya kita jangan langsung mencap bahwa apa yang dilakukan oleh anak itu adalah kegiatan negative dan mencap anak tersebut sebagai cikal bakal generasi malas dan bodoh,. Bagi saya, meng-underestimate kan generasi millennial dan membanding-bandingkannya dengan generasi sebelumnya merupakan suatu tindakan yang tidak benar. Lalu apa hubungannya dengan moderasi islam? Seringkali saya melihat beberapa pemikiran kolot dari orang muslim yang melarang anaknya untuk melek teknologi, hanya karena tidak mau dianggap sebagai muslim yang menggunakan produk yang diciptakan oleh non muslim. Menggunakan produk nonmuslim sama halnya dengan berpihak pada nonmuslim dan mengkhianati islam. Sungguh hal ini berbanding terbalik dengan sifat islam yang moderat, bersikap netral bukan berarti memihak nonmuslim tetapi ketika nonmuslim dapat memberikan pengalaman baru, dan pelajaran baru, apa salahnya untuk bersikap lebih terbuka?

Saya kemudian memperhatikan adik saya yang masih duduk di bangku SMP. Orang tua saya tidak pernah melarang anak-anaknya untuk menggunakan gadget. Dengan syarat tetap ingat pada kewajiban utamanya sebagai anak dan jangan sampai lupa waktu ketika menggunakan gadget, karena itulah diberikan waktu khusus bebas memainkan gadget dalam suatu waktu. Hasilnya, adik saya dapat membuat konten-konten yang menarik di youtube, dapat berkespresi dan berkarya di dunia internet, bahkan mencoba programming dan menemukan hobi baru. Ini menunjukan bahwa generasi millennial muslim dapat diandalkan dan merupakan modal yang baik untuk peradaban islam di kemudian hari. Ketika kita mampu mengembangkan potensi-potensi generasi millennial muslim, tentunya langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan tidak meng-underestimate generasi millennial muslim dan tidak melarangnya untuk berkarya hanya karena objek yang dia gunakan untuk berkaraya merupakan ciptaan kaum nonmuslim.

Dengan pengetahuan agama kuat ditunjang dengan pengetahuan sains, sosial yang juga sama kuat. Islam dapat mencapai kejayaanya kembali dalam peradaban. Penyebarluasan informasi agama islam dapat lebih mudah diakses, kita juga dapat membuat dunia takjub dengan islam ketika kita mampu berkarya di depan mata dunia. 

Poin utama yang harus kita perhatikan untuk berkarya adalah dengan menjadi pintar, untuk menjadi pintar kita harus senatiasa membaca. Membaca apapun itu, membaca segala hal yang ada di dunia, entah itu membaca  buku, membaca situasi, membaca kondisi, membaca zaman, membaca perubahan teknologi, membaca dunia secara terbuka. Muslim bisa melakukan hal ini, genarasi millennial dapat diandalkan dalam memajukan peradaban islam, untuk itu kaum muslim jangan berhenti membaca dan jangan menyumbangkan kebodohan terhadap peradaban hanya karena kaum muslim konservatif dalam artian tertutup pada dunia di luar islam, dan tertutup pada perkembangan zaman yang terus berkembang. Karena sejatinya islam itu moderat, maka kita harus kembangkan lagi moderasi islam dan siap untuk bersaing di era globalisasi.

Oleh : Ai Siti Rahayu/KPI 3A

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia