x
BREAKING NEWS

Kamis, 20 Desember 2018

kirim ulang opini 2

Ucapkan Yang Baik-Baik atu Lebih Baik Diam

Pasca repormasi pada tahun 1998 sampai sekarang ini, kita memang disuguhkan dengan kebebasan. Baik kebebasan dalam mengekspresikan diri, beragama, bernegara, bersosial politik, bahkan kebebasan dalam berbicara. Akan tetapi, dalam urusan berbicara yang sangkut pautnya dengan mulut, akhir-akhir ini semakin mengalami krisis yang tajam dan meruncing.

Atas dasar demokrasi yang dimaknai sebagai kebebasan, salah satunya kebebasan berbicara. Kebebasan yang dahulu dibungkan sejak 32 tahun lamanya pada zaman rezim soekarno, kini seolah kuda keluar dari kandangnya, semua bebas mengemukakan pendapat dan unek-uneknya masing-masing.

Dari mulai muruh, nelayan, petani, masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan, keluarga presiden, keluarga sultan, bahkan anggota DPR yang terhormatpun bebas mengemukakan pendapatnya ataupun berkomentar kapanpun, dimanapun, bahkan kepada siapapun. Bahkan semua yang tidak berkenan di hati mereka, mereka langsung berkomentar dan utarakan dengan lugasnya kepada muka umum.

Media sosial sebagai salah satu media atau wadah tempat mereka mengemukakan pendapat dan melepaskan unek-uneknya. Bahkan dari mulai ketua RT sampai presidenpun tidak luput dari kritikan, sindiran, bahkan hujatan masyarakat yang dilontarkan melalui media sosial.

Sebetulnya tidak ada salahnya ketika kritikan itu disampaikan dengan konstruktif. Karena negara yang demokrasi tanpa kebebasan berpendapat itu bagaikan perempuan yang mandul. Akan tetapi yang menjadi masalah besarnya adalah ketika kritikan itu lebih kepada mencaci, membuli, bahkan melontarkan fitnahan-fitnahan. Itulah kasus yang kita jumpai di media sosial ataupun pada kehidupan nyata.

Ekspresi berpendapat tersebut itu jelas sudah keluar dari koridor, baik koridor syari'at agama ataupun mengenai hak asasi manusia. Oleh karenanya banyak orang lain yang dirugikan karena perkataan yang tidak disaring. Kita harus ingat bahwa mulut ini bisa menjadi malaikat penolong buat kita, dan bisa juga menjadi harimau yang siap menerkam dan mematikan kita. Seperti pepatah mengatakan bahawa ucapan itu lebih tajam daripada pedang.

Maka dari itu, alangkah lebih baiknya kalau kita introspeksi dan pikirkan dulu sebelum berkata ataupun berpendapat dan lain sebagainya, karena kalau ucapan sudah keluar, maka ucapan itu tidak akan dapat ditarik kembali. Seperti kata Rasulullah SAW, katakanlah yang baik-baik atau lebih baik diam.

Moch. Raffka Yusuf S

raffkasyarief@gmail.com

083817421610

Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia