x
BREAKING NEWS

Kamis, 20 Desember 2018

Kirim Ulang: Menjadi Pendukung Siapa pun Silahkan, Tetapi Tetaplah Bernalar

Identitas Buku
Judul buku : Sabdo Cinta Angon Kasih
Pengarang : Sujiwo Tejo
Penerbit         : Mizan Media Utama
Tahun Terbit : November 2018
Tebal Halaman : 252 halaman
ISBN : 978-602-291-514-0

Sinopis Buku :
Mbok Jamu berselendang ungu telah menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang datang kepadanya. Bukan karena rambut hitam kehijauannya, lereng keningnya yang bening, atau kecantikannya yang tiada tara, para pria memjadi platinum member jamunya melainkan karena ia pintar karena memosisikan diri sebagai konco wingking. Perempuan yang posisinya selangkah di belakang pria.

Tunggu dulu, arti dari istilah itu baru tepat jika memandang hidup secra linier. Padahal, hidup ini berputar.  Ia di belakang tetapi sejatinya juga ada di depan karena takdir siklus. Itulah keistimewaan Mbok Jamu.

Kebanyakan orang memang tak pernah peka membaca pertanda. Berbeda dengan Sabdo Palon dan Budak Angon, makhluk spiritual dari Majapahit dan Pajajaran yang selalu mengikuti Mbok Jamu dalam senyap. Mereka yakin, Mbok Jamu bukanlah perempuan biasa, melainkan putri raja yang menitis ke dalam raga rakyat biasa. Meski terlihat tak berkuasa, ia mampu menjadi penentu kemenangan kompetisi pilpres tahun kapan pun.

Resensi buku :
Buku Sabdo Cinta Angon kasih adalah buku ke-19 karya Sujiwo Tejo. Buku ber-genre tentang wayang, sejarah, dan kritikan terhadap dunia politik di Indonesia.

Pada bagian sub judul 'Reklamasi Tawangmangu' digambarkan pasangan milenial pengagum panawakan petruk, si milenial perempuan sangat mempercayai semua yang diucapkan tokoh petruk tetapi si lelaki milenial lelaki membenarkan dengan berkata "Tidak usah membenarkan seluruh pendapat dan kelakuannya."  

Menjadi pendukung siapa pun silahkan tetapi tetaplah bernalar. Seperti itulah kata penulis. Kata-kata itu dilontarkan penulis untuk pembaca yang mendukung capres dan cawapres supaya tidak fanatik terhadap paslon, fanatik dalam artian membenarkan apa yang diucapakan paslon kebanggaannya.

Penulis juga mengangkat kejadian peristiwa atau insiden-insiden yang pernah terjadi sepanjang tahun 2016 secara detailnya. Kejadian peristiwa itu diceritakan menjadi sebuah cerita yang menarik, ada yang berupa pujian, sindiran bahkan cercaan.
Menjelang tahun politik, buku Sabdo Cinta Angon Kasih ini merupakan perwujudan dari keinginan setiap manusia dalam mencari pemimpin di masa yang akan datang yang dapat menaunginya, pemimpin yang tidak hanya menghitung jumlah rakyatnya tetapi juga mampu membaca hati dan aspirasinya. 

Buku ini dengan jelas menggambarkan keadaan Indonesia saat ini dan siapa sosok yang seharusnya dipilih oleh masyarakat Indonesia pada pilpres 2019 kelak. Sosok Mbok jamu yang digambarkan dalam cerita ini seakan menjadi sosok penentu siapa yang akan memenangkan perhelatan politik tanah air pada tahun berapapun.

Selain kritikan tentang politik dan pemimpin, sejarah Nusantara juga disinggung-singgung dalam buku ini, terutama kerajaan Majapahit, Mataram dan Pajajaran. Dalam buku ini penulis bercerita tentang sejarah dengan ringan, humor dan romantis tetapi tetap membuat para pembacanya berefleksi panjang atas hidup. 

Dengan sajian Sosial-Budaya yang kental dalam kehidupan masyarakat, menjadikan buku ini mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat serta penggunaan bahasa campuran antara Bahasa Indonesia, Jawa, dan Bahasa Sunda yang mudah dipahami masyarakat.

Tidak hanya berisi kisah tentang pewayangan, sejarah, kritik dan politik, buku ini juga dipenuhi oleh kutipan-kutipan yang khas dan menghangatkan hati serta mampu mewakili argumen-argumen rakyat terhadap pemimpin dan pemerintahannya.
Uniknya, buku Sabdo Cinta Angon Kasih ini adalah buku pertama yang menggabungkan antara Jangka Jayabaya dan Uga Wangsit Siliwangi, dua ramalan akbar Jawa dan Sunda.


Penulis : Arin Nur Idzatul Fitroh, Mahasiswa, KPI 3A

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia