x
BREAKING NEWS

Rabu, 26 Desember 2018

Demokrasi tanpa Hoax


Pesta Demokrasi di Indonesia kembali menyeru, bercerita untuk mencari pemimpin baru. Pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan dalam segala hal. Pemimpin yang bisa membawa nama ibu pertiwi harum di seantero jagat raya. Itulah harapan dari semua kalangan masyarakat negeri ini, yang menginginkan negara menjadi lebih maju, nyaman dan sejahtera. Itu semua akan terwujud di pemilu 2019 nanti dimana masyarakat akan memilih pemimpin di negara ini.

Berbicara pemilu tidak  hanya tentang pemimpin saja, masih ada intrik intrik didalamnya bagaimana untuk memenangkan kandidat yang mereka ajukan untuk memenangkan kursi no.1 di Indonesia. Berbagai cara dilakukan seperti pada umumnya melakukan kampanye, dan kini kampaye sudah dilakukan lebih mudah diera milenial ini, dimana pemanfaatan teknologi sangat membantu untuk mensosialisasikan kandidat.

Namun seperti pedang bermata dua, dimana media sosial bisa dimanfaatkan untuk mensosialisasikan visi dan misi, tetapi disisi lain media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk berbuat keburukan seperti menebar ujaran kebencian, membuat berita hoax yang menjatuhkan lawan. Maka masyarakat harus lebih selektif ketika menerima informasi yang tidak terdapat referensi tidak jelas. Cara selektifnya bisa dengan tidak langsung menyebarkan berita yang tidak jelas dan akurat dari mana referensinya atau sering disebut hoax.

Peran dari masyarakat jelas sangat berpengaruh, selain sebagai penentu nasib bangsa kedepannya juga sebagai penjaga kondisi demokrasi agar tetap berjalan kondusif. Dengan ikut andil langsung kedalam demokrasi tapi jangan terlalu fanatis dengan salah satu paslon, dengan membuat berita hoax yang dapat menjatuhkan paslon lain. Sehingga terlupakan bahwa kita masih saudara, yang sama-sama bertekad untuk memajukan negara Indonesia ini. Dan masyarakat juga tidak boleh bersikap apatis, dengan demokrasi ini karena satu suara saja dapat menentukan nasib bangsa.

Maka jadilah masyarakat yang dapat menjaga kondusifitas selama berlangsungnya pemilu 2019. Tetap menjunjung nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dan tidak menebar ujaran kebencian baik secara langsung maupun dengan membuat berita hoax. Karena semua itu telah di atur dalam UU yang berlaku, bila mana ada yang melakukannya maka bisa mendapat hukuman tindak pidana. Siapapun pemimpin yang terpilih itulah pemimpin kita yang harus kita dukung setiap program kebaikan yang akan dicanangkannya. Serta tidak adalagi istilah kamu pendukung siapa tetapi harus dirubah menjadi kita mendukung indonesia untuk menjadi lebih maju, nyaman dan sejahtera.

 

Rana Santika

Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia