x
BREAKING NEWS

Jumat, 28 Desember 2018

Dekadensi Toleransi Islam di Kalangan Generasi Menunduk

Sudah tidak asing lagi bagi setiap manusia mendengar kata 'toleransi'. Sikap yang senantiasa menjadi doktrin, serta melekat dalam title sebuah persatuan. Toleransi sangat erat kaitannya terhadap kemajuan suatu bangsa dan negara. Bangsa yang maju adalah bangsa yang selalu menjunjung tinggi toleransi. Begitu pula dengan negara yang maju adalah negara yang damai tanpa adanya diskriminasi antar masyarakat. Sikap toleransi adalah suatu wujud konkret yang dinamis dalam memandang setiap perbedaan. Wujud dari moderasi Islam juga salah satunya berawal dari sikap toleransi. Islam selalu berada di garda terdepan dalam perwujudan kehidupan yang damai.

Umat Islam tidak akan sulit menemukan bukti keberadaan toleransi pada zaman dahulu, cukup melihat potret suri tauladan, Nabi Muhammad saw. Pembentukan piagam Madinah sebagai bukti toleransi terhadap kaum Yahudi. Rasulullah mempersilahkan mereka untuk memilih agama yang menjadi pilihannya dan mendapatkan hak kewarganegaraan. Lalu, Rasul tidak dendam terhadap kaum Tsaqif yang telah melempari batu kepada dirinya dengan mendoakan kebaikan kepada mereka.  Namun sayang, perjuangan Rasul terhadap toleransi tidak mendapat dukungan dari seluruh umat manusia, sehingga Rasul sering kali berjuang sendirian.

Tahun 2016 saya berkesempatan untuk menginjak tanah Bali. Di sana saya melihat ada masjid yang letaknya berdampingan dengan wihara. Hebatnya, mereka tetap hidup rukun. Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Bli-bli turun tangan menjaga keamanan agar acara berjalan dengan lancar. Mereka berjaga hingga acara selesai. Begitu pun sebaliknya, saat perayaan nyepi, mamang dan bibi saya yang beragama Islam ikut merasakan kehidupan tanpa listrik dan internet. Aktivitas jual-beli yang menjadi ladang usaha juga mereka hentikan selama satu hari. Akan tetapi, mereka tetap melakukan aktivitas beribadah sebagaimana kewajiban seorang muslim.

Kehidupan penuh toleransi memang tidak selalu berkaitan dengan keagamaan. Bisa dilihat saat zaman kepresidenan Soekarno yang merumuskan nasakom sebagai wadah penerimaan semua ideologi bernegara. Jika dilihat pada masa kerajaan,  Majapahit telah lebih dahulu mendeklarasikan kehidupan bertoleransi. Dengan menerima setiap perbedaan yang ada di seluruh daerah kekuasannya. Sehingga pada zaman dahulu, toleransi benar-benar dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat.  Tidak memandang seseorang dari setiap latar belakang yang dimilikinya apa, sehingga kerukunan terus mengalir indah. Maka, toleransi tercipta dari adanya perbedaan di kalangan umat manusia.

Konstruksi Perilaku Intoleransi Generasi Menunduk

Memasuki zaman serba teknologi, manusia seakan dibuat kesulitan untuk mempertahankan sikap toleransi yang telah dibangun oleh para pendahulu. Teknologi yang semakin canggih ternyata ampuh menperdaya setiap pergerakan manusia. Kita tahu bahwa teknologi yang marak digandrungi oleh berbagai generasi adalah handphone. Handphone ini semakin berkembang dari waktu ke waktu, yang akhirnya berkembang menjadi smartphone (telepon pintar). Telepon pintar memiliki beragam fitur yang mampu mempermudah manusia dalam beraktivitas. Maka, konstruksi perilaku generasi menunduk terhadap sikap toleransi cenderung lebih pasif karena kepedulian manusia telah beralih pada layar smartphone. Dahulu telepon pintar belum ada seperti sekarang, sehingga masyarakat lebih fokus pada kehidupan yang nyata ada di hadapan mereka.

Jika membandingkan kondisi pada zaman tradisional hingga modern, toleransi lebih banyak terjadi di kalangan para pendahulu. Kehidupan yang belum dimanfaatkan oleh teknologi, menjadi hal yang membuat mereka mampu berpikir secara jernih dan dewasa. Tidak dikotori oleh informasi-informasi hoax yang mampu memecah belah persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Generasi menunduk itu yang selalu membawa telepon pintar kemana pun mereka pergi. Layar smartphone tak ubahnya sebuah surga yang membuatnya begitu tertarik. Bahkan mereka tidak sadar bahwa dirinya sedikit demi sedikit telah diperbudak oleh teknologi. Jadi dapat kita simpulkan secara singkat, sikap toleransi mulai mengikis seiring dengan perkembangan zaman. Smartphone sangat mempengaruhi perilaku manusia kepada dunia sekitar. Keacuhan akan lebih sering ditampilkan di atas panggung kehidupan.

Bagaimana tidak, smartphone memanjakan berbagai macam generasi dengan menyuguhkan fasilitas internet. Dunia sangat mudah mereka raih hanya dengan mengklik tombol pada layar touchscreen. Kehadiran internet dianggap telah mengubah pola interaksi manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kebebasan berinteraksi dengan siapa pun menjadi lebih luas dengan melalui dunia maya. Dengan begitu, silaturahmi ke rumah tetangga, saudara, juga teman akan sedikit berkurang dengan adanya pergeseran tradisi di era modern. Karena terlalu asyiknya dengan Smartphone yang kita genggam, dunia sekitar pun tak jarang kita abaikan.

Penyalahgunaan teknologi smartphone telah beredar luas di kalangan penggunanya. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab telah memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai ajang untuk mengadu domba. Kebebasan dalam beraspirasi juga ikut disalahgunakan. Kaburnya batas antara benar dan salah sangat merugikan manusia, terutama umat Islam. Sering kali internet dan media sosial berkolaborasi menyuguhkan suatu informasi, baik dalam bentuk tulisan maupun video. Menafsirkan ayat-ayat Alquran yang tidak menyeluruh. Menyebutkan hadis-hadis daif yang dapat menyesatkan.

Bagi kaum awam, hal itu tentunya akan mudah untuk terprovokasi. Informasi yang mereka terima tanpa disaring terlebih dahulu, pengaruh negatif mudah masuk ke dalam pikiran. Pikiran negatif akan membawa kita pada tindakan negatif pula, jika tidak bisa untuk menetralisirnya. Sehingga sangat wajar bila intolerant life (kehidupan intoleransi) ini sangat melekat pada generasi menunduk. Maka jangan heran, jika perkembangan teknologi dapat menciptakan intolerant life.  Kehidupan yang tidak lepas dari smartphone. Alhasil, celah untuk mencetak generasi menunduk kian terbuka lebar.

Penyebab Dekadensi Toleransi dalam Dunia Islam

Peran Islam sebagai sebuah agama yang disakralkan oleh seluuh penganutnya bukan semata tentang pengaruh spiritualnya saja, melainkan juga berpengaruh terhadap aspek sosial-politik (kenegaraan). Dalam aspek sosial, masyarakat yang hidup dalam lingkup multikultural sangat diperlukan adanya toleransi. Yang bertujuan agar penafsiran mengenai cara beragama yang baik, bukan berarti memiliki persepsi bahwa semua agama itu sama. Akan tetapi, saling menghormati agama yang berbeda dengan kebenaran sesuai ajarannya masing-masing. Dan tentunya Islam dengan ajaran orisinalitas yang bersumber langsung  dari Allah Swt.

Jika kita amati, betapa mudahnya dekadensi toleransi dunia Islam menjadi intoleran hanya karena pengaruh smartphone. Benarkan? Keinginan untuk bertindak tidak biadab sangat mungkin terimplementasi dan bisa saja mengalami suatu gangguan psikologis Attention Deficit Disorder (ADD). Masalah demi masalah, tantangan demi tantangan, terus saja menyebabkan dekadensi toleransi generasi saat ini. Namun yang terjadi, usaha untuk menghapus dekadensi terhadap toleransi nihil. Hingga pada akhirnya, generasi masa kini kembali menundukkan kepalanya sambil mengutak-atik layar touchscreen. Kencangnya arus globalisasi yang tidak dibekali dengan persiapan matang, sebagai pemicu terjadinya phubbing. Intoleran akan lebih mudah merasuki jiwa para phubbers. Hilangnya rasa solidaritas  sudah pasti akan terjadi. Lawan bicara yang nyata berada di hadapan generasi menunduk cenderung akan disepelekan dan tidak diberikan apresiasi.

Para pakar psikologi sosial menyebutkan bahwa ada empat faktor mengikisnya perilaku toleransi di kalangan anak muda, seperti kesiapan mental yang belum matang; terjadinya ketimpangan politik; juga ketimpangan ekonomi; dan masalah pemahaman teks keagamaan (Qadir, 2016). Dewasa ini, agama selalu dikaitkan dengan generasi intoleransi. Kefanitikan seseorang terhadap agama adalah suatu kekuatan kaum religius dalam menjungjung tinggi agamanya.   Problematika yang marak muncul adalah penistaan agama. Toleransi beragama merupakan realisasi dari ekspresi pengalaman keagamaan dalam bentuk komunitas (Cassanova, 2008). Wawasan yang tidak cukup luas juga ucapan yang asal ucap sangat memancing perhatian dari kaum religius.

Islam bukanlah agama yang cinta kekerasan. Keindahan ajaran Islam begitu kontra dengan sikap intoleransi. Alquran  telah lebih dahulu menjelaskan tentang konsep syu'ubiyah. Konsep syu'ubiyah dapat diartikan sebagai konsep yang bertujuan menyamaratakan pandangan terhadap perbedaan yang Allah ciptakan.  Dalam surah Al-Hujurat ayat 13, Allah telah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,  dan dengan berbagai kelebihan serta kekurangan. Agar sikap toleransi menjadi suatu tradisi bagi seluruh umat Islam, butuh pribadi yang berhati luas dan berpikiran terbuka. Tidak saling menghina, apalagi menyudutkan setiap kekurangan. Tidak menganggap suatu perbedaan menjadi hal yang harus diperdebatkan. Tujuannya agar mereka saling mengenal dan tidak saling membandingkan persepsi sempurna, sebab kesempurnaan yang hakiki hanya milik-Nya semata.

Sudah pasti tidak ada yang ingin generasi menunduk terus berkembang biak. Moderasi Islam masa kini menginginkan kembalinya generasi yang bukan identik dengan sikap egosentris, berbau kekerasan, dan menciptakan kesenjangan sosial. Sehingga predikat manusia sebagai makhluk sosial, lambat laun akan sirna tergerus zaman. Dunia Islam yang kini kita sangat cita-citakan adalah kehidupan yang penuh dengan toleransi. Keharmonisan dalam keberagaman membuat dunia Islam kembali bersinar. Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

Essai: Nabila Hekar Safitri 3/C

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia