x
BREAKING NEWS

Kamis, 27 Desember 2018

Butuh Solusi Permanen dan Jangka Panjang

Butuh Solusi Permanen dan Jangka Panjang

Oleh: Nafrah Galang Madani

Bila kita keluar rumah saat siang, sengatan matahari begitu terasa membakar tubuh.
Bahkan, boleh dikatakan musim kemarau sekarang seperti membawa kita ke dalam oven
raksasa. Makanan yang terkena panas dalam waktu lama pasti akan gosong. Air pun akan
menyusut bila terpanggang dalam panas.

Semua makanan akan terpanggang atau menjadi gosong karena panasnya yang
menjadi-jadi. Air yang banyak akan semakin surut apabila terlalu lama dibiarkan panas.
Begitulah analogi kondisi negara kita yang sedang dilanda kemarau panjang. Krisis air bersih di
berbagai daerah menjadi pemandangan sehari-hari.

Seharusnya kita memiliki pasokan air yang sangat banyak karena berada di negara
tropis. Mengapa justru saat kemarau seperti ini yang terjadi justru krisis air nyaris di setiap
daerah? Bagaimana pemerintah dan masyarakat menangani hal tersebut?.

Populasi masyarakat Indonesia kian hari semakin meningkat. Faktanya, ada 261,1 juta
jiwa penduduk Indonesia yang pasti memerlukan air untuk bertahan hidup setiap hari.
Pabrik-pabrik dan industri yang juga makin banyak sudah pasti ikut membawa andil menguras
air tanah. Lebih celaka lagi ketika limbah industri dibuang ke sungai yang sebetulnya berfungsi
sebagai resapan air.

Belum lagi penebangan hutan yang serampangan, pembakaran lahan dan hutan atas
nama land clearing, yang kelak digunakan sebagai lahan perkebunan memberi saham besar
terjadinya kondisi seperti ini. Wilayah serapan air makin terbatas bahkan hilang, membuat
hawa panas semakin menjadi-jadi. Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan?.

Krisis ini sangat berdampak di lahan-lahan pertanian. Langkah pemerintah memberikan
dropping air bersih memang cukup membantu. Namun, hal ini sifatnya hanya sementara. Butuh
langkah jangka panjang agar tak terjadi lagi dropping air bersih. Pembangunan berbagai
bendungan, waduk, dan embung menjadi salah satu solusinya.

Jangan lupa, masyarakat pun harus ikut aktif mengatasi krisis air dengan cara
menggalakkan gerakan menanam pohon, menggunakan air tanah secara bijak, konservasi
lahan, melestarikan hutan dan daerah aliran sungai, membangun tempat penampungan air,
membangun sumur resapan, dan tak mencemari sungai dengan limbah.

Tulisan pernah dimuat di Media Indonesia Tanggal 15 September 2018 hari sabtu.

Nafrah Galang Madani

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia