x
BREAKING NEWS

Kamis, 27 Desember 2018

Bodoh Karena Cinta

Bodoh Karena Cinta

Cinta, pasti akan selalu ada di dalam setiap insan di dunia ini. Setiap orang, pasti memiliki pengalaman tentang cinta. Entah itu pada masa kecilnya, masa remajanya, masa dewasanya, maupun pada lanjut usia. Tak tahu mengapa, pada masa pubertas, disaat memandang lawan jenis yang menarik, hati ini serasa ingin memilikinya. Rasa penasaran pun muncul, tak seperti sebelum masa pubertas. Ketika sudah memilikinya, dunia serasa milik berdua. Akan tetapi, saat berpisah, hati serasa hancur bagaikan istana pasir dihempas ombak. Begitulah cinta, tapi apakah kita harus menyalahkannya?

Saat saya masih sekolah, saya pernah merasakan apa itu patah hati. Ketika awal masuk SMP kelas 1, saya melihat seorang wanita yang cantik layaknya wanita jepang. Mata sipit, rambut lurus, dan kulit putihnya mengalihkan duniaku. Ingat pertama kali dia memberi sms kepada saya yang berisi "boleh daftar dong hehe…", seketika hati bergejolak parah, apa ini, rasanya ingin meloncat-loncat kegirangan. Saat itu, saya tak ingin berlama-lama untuk menembaknya, dibantu oleh beberapa teman saya dan ditonton oleh anak-anak seangkatan di koridor sekolah. Betapa malunya saat itu, kaki bergetar, tangan bergetar, itulah yang kurasakan. Pada akhirnya, dia menerima cinta saya, dengan syarat diduakan. Dengan bodohnya tanpa berpikir panjang, saya langsung menerimanya. Betapa bodohnya diri ini saat itu, karena tak tahu apa artinya diduakan.

Hari mulai berlalu. Sosoknya selalu terlihat saat saya memasuki gerbang, bukannya saya mendekatinya, tapi malah menjauhinya. Malu sekali saya memandangnya, mungkin karena pertama kalinya saya memiliki seorang pacar, jadi salah tingkah di depannya. Pernah memberanikan diri dan menghilangkan rasa malu ini dengan bernyanyi bersama di depan kelasnya. Indah sekali rasanya saat itu, dia tersenyum, saya senyum padanya. Akan tetapi, tak lebih dari sebulan, saya pun putus dengannya.

Dia yang kucintai saat itu memutuskan untuk berpisah dengan saya, karena sebenarnya dia telah memiliki seorang lelaki lain, dan ternyata saya hanya dipermainkan olehnya. Ketika mengetahui itu, saya tak tahu harus berbuat apa. Tubuh terasa lemas tak berdaya, dan disisi lain, ditertawakan oleh teman pula. Sakitnya hati ini seperti ditusuk bambu runcing. Dengan mudahnya dia pergi disaat saya sayangnya-sayangnya. Tapi, aku tak bisa menyalahkannya, karena sebenarnya saya lah yang salah telah memilihnya. Akhirnya saya intropeksi diri dan memilih untuk berpimdah sekolah ke sekolah agama agar hati ini tak merasakan terluka lagi. Begitulah yang dinamakan cinta berlebihan, patah hatinyapun akan berlebihan. Itulah pentingnya kita harus menjaga hati. Bila hati rusak, rusak pula seluruh tubuh dan kehidupan kita.

Nafrah Galang Madani

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia