x
BREAKING NEWS

Jumat, 12 Oktober 2018

BAGAIMANA MENGATASI KRISIS AIR PADA MUSIM KEMARAU

Oleh: Fahmi Syaefurrahman

BAGAIMANA CARA MENGATASI KRISIS AIR DI MUSIM KEMARAU?

Air sangat penting bagi kesehatan manusia. Namun, populasi manusia yang terus meningkat membutuhkan lebih banyak air, pangan, energi, dan bahan baku sehingga semakin memperketat persaingan. Masalahnya adalah kita bersaing dengan alam yang juga membutuhkan air untuk menjaga ekosistemnya. Kita terus menyalahgunakan sumber daya air yang ada di Bumi, sekarang kita harus siap untuk menerima konsekuensinya. Meskipun tiga perempat dari bumi adalah air, tetapi hanya satu persen yang tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Dengan kondisi seperti ini, air menjadi berbahaya bagi kesehatan bila diminum dalam kondisi darurat. Jika kita minum air yang tidak murni, meskipun di dalamnya terdapat mineral yang diperlukan manusia, hal ini akan membuat tubuh kita seperti filter alami. Dengan sendirinya, tubuh kita akan menyaring racun dan polutan yang telah mencemari air yang kita minum.
Penyediaan air bersih kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan lingkungan atau kesehatan masyarakat, yang memiliki peran dalam mengurangi jumlah orang dengan penyakitnya, terutama penyakit yang berhubungan dengan air, dan berperan penting dalam meningkatkan standar atau tingkat (kualitas) hidup. Sampai saat ini, penyediaan air bersih bagi masyarakat masih dihadapkan pada beberapa masalah yang kompleks dan sampai sekarang belum dapat sepenuhnya diatasi. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah masih rendahnya tingkat pelayanan air kepada masyarakat. Sehingga, hal itu akan memiliki efek pada kesehatan manusia.
Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, kontaminasi oleh mikroorganisme (bakteri atau virus) ke badan air dan pasokan air yang sering terjadi, dan kali ini dengan faktor kimia polusi dan fisika, misalnya kontaminasi oleh senyawa polutan mikro yang mutagenik dan/atau penyebab kanker (karsinogenik) perlu diwaspadai. Hal ini sering muncul sebagai akibat dari urbanisasi dan industrialisasi dan juga karena penggunaan teknologi produksi yang sering tidak atau kurang ramah terhadap lingkungan atau kesehatan masyarakat.
Pada tahun 2013, dari sekitar dua ratus jutaan orang Indonesia, hanya 20% yang memiliki akses ke air bersih. Sebagian besar berada di daerah perkotaan. Adapun sisanya, atau sekitar 80% masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi air yang tidak layak untuk kesehatan. Hal itu dibuktikan oleh penelitian Jim Woodcock, konsultan masalah air dan sanitasi dari bank dunia, hasilnya adalah bayi di Indonesia kurang lebih 100.000 tewas setiap tahun akibat diare, penyakit yang paling mematikan sekunder untuk infeksi saluran pernapasan akut. Penyebab utama, jelas kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi.
Menurut pendapat saya, ada dua masalah utama yang menyebabkan kualitas air yang buruk di Indonesia. Masalah pertama adalah kurangnya kesadaran masyarakat di Indonesia tentang lingkungan. Masih banyak penduduk selalu mengarah pada kualitas air yang buruk di Indonesia, terutama pada sumber daya air yang seharusnya menjadi sumber mata pencaharian. Masalah kedua, adalah alokasi anggaran yang rendah untuk masing-masing daerah yang digunakan untuk meningkatkan pelayanan air bersih dan sanitasi. Dua masalah utama di atas, tampaknya tidak ada habisnya. Bahkan dari tahun ke tahun semakin besar danbertambah kompleks untuk ditangani.

Beberapa aspek kesehatan yang berhubungan dengan kualitas air antara lain:
A. Waterborne Disease, seperti:
a. Disentri
b. Tifus dan Paratyphus
c. Kolera
d. Hepatitis A
e. Akut Anterior Poliomelistis
B.Penyakit yang berhubungan dengan kesehatan
Menurut saya, ada tiga langkah strategis yang akan diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah air dan sanitasi. Langkah pertama dan yang paling mendasar di sini adalah bahwa pemerintah terus mempromosikan upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Langkah kedua adalah akan dieksekusi, setelah kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan, pemerintah menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas akses ke air bersih dan sanitasi. Langkah ketiga, jika dalam arti anggaran telah mencapai titik maksimum, sehingga tidak dapat diangkat lebih jauh, pemerintah juga dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional yang terkait dengan itu. Mari kita pergunakan sumber air dengan bijak dengan menjaga kualitas air dari berbagai resiko pencemaran penyakit.

Fahmi, Mahasiswa KPI UIN SGD Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project