x
BREAKING NEWS

Jumat, 21 September 2018

Awal Mula Rintisan Hingga Berdikarinya MDT Masjid Safinatussalam

Dakwahpos.com, Bandung – Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) adalah wadah bagi anak-anak sekitar masjid Safinatussalam, tepatnya di Cibiru Hilir Block CC kecamatan Cileunyi kabupaten Bandung. Anak-anak belajar, mengetahui dan menambah wawasan mengenai ilmu agama islam.

"MDT didirikan 1 juli 2018 oleh tiga ibu rumah tangga, yaitu Achrijani Djaitun, Masrini dan Nina. Pendirian MDT itu sendiri tidak luput dari adanya bantuan dari dosen UIN Bandung yaitu ustadz Aang dan ustadzah Imas Rosmayanti," ujar Achrijani Djaitun selaku kepala sekolah MDT masjid Safinatussalam, Senin (17/9/2018).

Archrijani Djaitun, Masrini, Nina, Agus Baroya (penasehat DKM ) dan Yunus Hikam (ketua DKM saat itu), bermaksud mengundang ustadzah Imas ke masjid untuk membicarakan pendirian Diniyah di masjid Safinatussalam, karena ustadzah Imas mengetahui informasi digalakannya Diniyah. Kemudian ustadzah Imas menjelaskan dan memberi kesanggupan akan membantu jika masjid ini ingin mendirikan Diniyah. Archrijani dan 4 orang lainnya sepakat untuk mendirikan Diniyah dibantu oleh ustadzah Imas sampai keluar SK tahun 2005.

"Tujuan didirikannya MDT ini salah satunya supaya anak itu ada wadah mengaji yang jelas, karena kalau sifatnya individu kita harus mengetahui latar belakang pengajar, sedangkan kalau dalam wadah MDT dia jelas ada dibawah DKM sehinnga oleh DKM terkontrol siapa pengajarnya. Karena kan sekarang zaman nya radikalisme jadi harus jelas wadahnya dimana," ujar Achrijani Djaitun, Senin (17/9/2018).

Menurut Archrijani, tahap awal berdiri terdapat 15 anak yang bergabung di MDT, tetapi Archrijani dan yang lainnya kebingungan karena tidak adanya pengajar dan mereka tidak mempunyai pengetahuan lebih dalam keagamaan, mereka hanya mempunyai niat yang kuat supaya anak-anak bisa mengaji. Ustadz Aang kebetulan sudah membuka pengajian anak-anak di masjid tersebut tetapi belum rutin karena kesibukannya. Kemudian Archrijani mengajak ust. Aang untuk menjadi pengajar.

Setelah tiga tahun berdiri, Archrijani mendapat informasi mengenai Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah ( FKDT ). Kemudian Archrijani mengikuti forum tersebut, dan mulai dibuatnya kurikulum supaya lebih rapih. Karena kesibukan ustadz Aang, beliau mengundurkan diri menjadi pengajar dan digantikan oleh ibu Ika.

Sekarang jumlah pengajar bertambah menjadi tujuh orang sedangkan siswa MDT bertambah menjadi lima puluh lima orang, semua pengajar adalah ibu rumah tangga. Para pengajar otodidak mempelajari dari buku panduan kemudian disampaikan kepada anak didiknya.

Peran MDT sangat penting bagi masjid Safinatussalam, karena Madrasah ini seolah-olah menuntut anak untuk pergi ke masjid setiap hari dan menanamkan dalam jiwanya untuk cinta masjid. Dengan itu banyak anak-anak yang ikuti shalat berjama'ah di masjid. Usia rata-rata anak MDT yaitu satu sampai lima tahun.

"MDT di mulai dari hari senin sampai jumat pukul 16.00 sampai 17.00 WIB. Kegiatan mereka sesuai kurikulum yang sudah diberikan, seperti mengaji, baca tulis Al-qur'an. Kadang setelah selesai belajar mereka ikuti ekstrakulikuler seperti qasidah, pidato, dan baca puisi, dan hingga memenangkan juara 1 lomba baca puisi islam putra putri," ujar Achrijani Djaitun, akhiri pembicaraan.


Reporter : Astri Lestari, KPI / 3A

Bagikan

5 komentar :

  1. Penulisan ustadz, jika dimaksudkan adalah seorang guru mengaji laki-laki, berdasarkan kbbi adalah ustaz. Di paragraf 3 penulisan dan penyusunan katanya agak rancuh jadi perlu beberapa kali dibaca baru bisa dimengerti.

    Saran: rajin-rajin periksa kata apakah sudah sesuai kbbi/puebi atau tidak.

    ABDUL AZIS SAID

    BalasHapus
  2. Tulisan "Hingga" pada judul seharusnya ditulis dengan huruf kecil.
    Dalam menentukan judul sebaiknya tidak menggunakan kata yang jarang dipakai dan diketahui oleh pembaca seperti "berdikarinya".
    Judul sebaiknya di buat semenarik mungkin dan mempunyai nilai berita, agar banyak orang yang tertarik untuk membaca berita ini.

    BalasHapus
  3. Pada paragraf ke tujuh disebutkan lima puluh lima orang, yang saya tahu jika bilangan itu melebihi sepuluh maka penulisannya dengan angka tidak dengan tulisan. Jadi, kita bisa melihat jumlah secara angka nyata tertera di berita.
    Terimaksih

    BalasHapus
  4. Untuk isinya sebenarnya, lebih merujuk pada tulisan latar belakang atau tulisan sejarah pengetahun. Nilai beritanya masih harus terus dikembangkan... Tapi bagus

    BalasHapus

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project