x
BREAKING NEWS

Minggu, 08 Oktober 2017

Resensi Buku: Meraih Kebahagiaan



Judul Buku : Meraih Kebahagiaan
Penulis : Jalaluddin Rakhmat
Editor : Rema Karyati.S
Desain Sampul : Iman Taufik
Layout : Dedi Junaidi
Penerbit : Simbiosa Rekatama Media
Cetakan : 5 Oktober 2009
Tebal :203 Halaman


Kebahagiaan dan penderitaan merupakan dua pilihan manusia dalam kehidupanya. 99% dari seluruh manusia akan memilih kata kebahagiaan dari pada penderitaan. Kebahagian merupakan tujuan hidup manusia ujar seorang filosof yunani_Aristoteles. Kebahagian juga merupakan fitrah manusia hingga tak ada satupun manusia yang menginginkan hidup menderita.

Aristoteles menceritakan sebuah kisah menarik dalam mengungkapkan kebahagiaan. Kala itu ada seorang yang sangat bijak bernama Creosus, dia juga seorang raja yang kaya dan memiliki tahta dan singgahsana yang megah. Suatu hari raja Creocus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki untuk melihat keadaan masyarakat. Pada perjalanannya beliau bertemu dengan satu warganya yang bernama solon. Dengan senang hati solon mengajak baginda raja Creocus untuk bersinggah ke rumahnya. Setelah berbicara panjang lebar raja bertanya sesuatu kepada solon "wahai solon dari banyak orang yang engkau saksikan siapakah diantara mereka yang paling bahagia?". Tanpa berfikir panjang solon langsung menjawab " tellu dari athena naginda".

Raja creous terkejut dengan jawaban solon hingga beliau bertanya dengan sangat keras "mengapa kamu menganggap tellus adalah orang yang paling bahagia?" dengan tenang solon menjawab pertanyaan sang raja "pertama, karena negrinya makmur pada zamanya, tellus memiliki anak laki-laki yang tampan dan baik, beliau sempat hidup dan sempat menyaksikan cucu-cucunya. Selanjutnya setelah beliau menjalani hidupnya dengan bahagia beliau menemui ajalnya dalam keadaan mulia. Dalam pertempuran melawan tetangganya di dekat aleusis, ia meninggal secara terhormat di medan perang. Orang athena memberikan penghormatan yang setinggi-tinginya dalam pemakamanya". Raja akhirnya bertanya kembali " apakah kebahagiaanku begitu kecil sehingga kamu tidak meletakanya pada tingkat yang sama dengan orang-orang biasa? Solon kembali menjawab " mengenai pertanyaanmu aku tidak bisa memiliki jawaban kecuali anda telah menutup hidup anda dalam keadaan bahagia.

Kebahagiaan yang kekal atau abadi adalah kebahagian yang kita rasakan setelah kita meninggal. Ada dua tipe kebahagian dalam kehidupan manusia. Pertama, kebahagiaan yang bersifat episode_ kebahagiaan yang berupa kesenagan-keenangan, kebaikan-kebaikan yang kita kumpulkan dalam kehidupan ini. Kedua yaitu kebahagiaan yang berbentuk sikap kebahagiaan yang diukur setelah kita meninggal.

Jalaluddin Rakhmat seorang penulis buku meraih kebahagiaan ini mengungkapkan bahwa kebahagiaan itu bersifat subyektif bukan obyektif. Dalam buku ini banyak para filosof yang mengungkap kebahagiaan. Karena banyak yang berangkat dari latar belakang filsafat dan psikolog maka berbeda-beda pendapat dalam mendefinisikan kebahagiaan hingga sangat sulit pembaca untuk memahami kebahagiaan itu sendiri.

Namun buku ini sangat mudah dibaca karena penulis mengungkapkan dengan sebuah cerita-cerita yang menarik dan sering dialami oleh kehidupan manusia .Agar pembaca meraih kebahagian yang benar-benar kebahagiaan maka perlulah membaca buku manis berjudul meraih kebahagiaan karangan Jalaluddin Rakhmat ini.

Buku setebal 203 halaman ini memaparkan tentang filosofi kebahagiaan. Buku ini membahas kebahagiaan melalui sudut pandang agama, filsafat, ilmu pengetahuan, serta makna yang sebenarnya tentang kebahagiaan.

Melalui buku ini, kita disadarkan bahwa kebahagiaan bukan datang dari keberuntungan melainkan dari dalam diri sendiri. Kebahagian ataupun penderitaan adalah pilihan yang kita tentukan. Kebahagiaan bukan terletak pada pemilikan uang semata, tetapi terletak pada kegembiraan pencapaian, karena kebahagiaan adalah kewajiban moral dan juga agama. Kita wajib memilih bahagia berdasarkan perintah Tuhan. Berusaha hidup bahagia adalah mengemban misi mulia agama, apapun namanya.

Kita akan bahagia jika dalam pandangan kita tidak ada bedanya antara hidup dan mati, penjara dan istana, miskin dan kaya, racun dan madu. Para psikolog menunjukkan bahwa dalam keadaan bahagia orang-orang juga lebih penyayang, lebih senang membantu, lebih dermawan.

Nama : Fitri Febrianti/KPI 3B

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project