x
BREAKING NEWS

Selasa, 03 Januari 2017

Mengajar dengan Metode yang Tepat



Judul               : Mendidik dengan Tujuh Nilai Keajaiban
Penulis            : Freddy Faldi Syukur
Editor               : Nunik Siti Nurbaya
Desain Sampul    : Nur Slamet
Layout               : Pratama Setya Ilham
Penerbit             : Simbiosa Rekatama Media
Tahun    Terbit        : 2012
Jumlah Halaman    : 180
ISBN                     : 978-979-3782-85-0

Miracle atau Keajaiban adalah konotasi positif untuk landasan pokok dalam pemaparan materi dalam buku ini. Dalam penyajiannya, penulis tidak muluk-muluk saat memberikan materi pada pembaca. Pembukaannya pun dibuat semenarik mungkin. "Guru Dahsyat dengan Nilai Keajaiban" menjadi pengawal bab sebelum penjabaran tujuh nilai yang dimaksud. Dalam bab ini, penulis mempersuasi dengan sangat baik, seolah bertanya: "Apakah Anda ingin menjadi guru?" kemudian dijawab lagi dengan kalimat positif: "Maka Anda harus menjadi pribadi yang luar biasa!"

Berlanjut ke penjabaran masing-masing bab, yang pertama digali dari MIRACLE adalah MOTIVATION. Dalam mengajar, motivasi adalah hal penting untuk menunjang passion/hasrat agar tercapai kestabilan dalam proses pembelajaran. Dijabarkan pula di awal sebelum menuju topik utama, dari perkataan Reza M. Syarif , yakni "Motivation is not everything is start from motivation."

Setelah itu, buku ini tidak langsung memberikan penjelasan rumit ataupun pengantar yang berbelit. Penulis justru lebih memilih bercerita dengan gaya dahsyatnya, yakni dengan membandingkan kasus-kasus yang sering terjadi di kalangan para calon guru. Begitu pula di bab selanjutnya: Integrity and Innovative. Dijabarkan dalam bab ini:

Kasus I

Seorang guru wanita pagi itu memasuki kelas dengan setumpuk buku berada di tangannya. Begitu ia masuk kelas, anak-anak yang tadinya gaduh diam seketika. Dengan tertib mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing, hampir tanpa suara.

"Ayo anak-anak! Buka buku Sains halaman 15! Ivan, kerjakan soal nomor satu yang ada di buku!" katanya seusai ketua kelas memimpin doa pagi bersama.

"Ivan, kamu bawa buku, kan?" lanjutnya begitu melihat Ivan bergeming. Ivan hanya diam menunduk, tidak berani bergerak, apalagi bersuara. Sesekali ia menengok ke arah temannya. Guru itu menghampiri meja Ivan dan menatapnya tajam. "Mana buku kamu?" bentaknya.

Tergagap, Ivan menggelengkan kepala dan menjawab pelan, "Nggak bawa, Bu... lupa.." ia tak berani berbalik menatap gurunya.

Guru itu merasa kesal. "Sudah, pakai buku Ibu saja dan sekarang kamu kerjakan soal nomor satu di depan!" perintahnya.

Ivan berdiri dengan cemas, langkahnya gontai, ia berjalan menuju papan tulis.

Kasus II

Bu Rani pagi itu memasuki kelas dengan membawa  beberapa buah tomat; biji kering yang siap disemai; dua kantong sekam yang siap dipakai; serta gelas bekas tempat air mineral. Selesai siswanya berdoa, ia mengambil salah satu tomat yang dibawanya sambil menunjukkan kepada mereka.

"Siapa yang pernah makan tomat?"

"Saya, Bu, saya!" serentak anak-anak menjawab dan mengacungkan tangan.

"Biasanya tomat itu bisa dibuat apa saja, ya?" tanya Bu Rani lagi.

"Bisa dibikin saos, Bu!"

"Dibuat jus juga bisa. Aku suka jus tomat."

"Dimakan gitu aja juga enak, kok."

"Benar semua jawaban kalian. Nah, di antara kalian, ada yang pernah melihat petani menanam tomat?" Hampir sebagian besar anak-anak menggelengkan kepala.

"Nah, sekarang kita akan belajar menjadi petani tomat. Ayo keluarkan gelas bekas tempat air mineral yang kemarin ibu suruh bawa. Bagian bawahnya sudah dilubangi, kan?" Jangan lupa tulis nama di situ, ya!" kata Bu Rani.

Anak-anak tampak ribut mengeluarkan gelas bekas tempat air mineral dan menamainya dengan ceria.

Dari dua kasus tersebut, kita dapat memahami makna yang ingin disampaikan penulis. Ia membandingkan dua proses dalam pembelajaran dengan dua guru yang memiliki kepribadian yang berbeda, juga cara mengajarnya yang berbeda. Luar biasa bukan?

Demikian pula dalam bab-bab selanjutnya, buku Mendidik dengan Tujuh Nilai Keajaiban karya Freddy Faldi Syukur ini menjelaskan tentang nilai-nilai yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin/sedang bergerak dalam dunia pendidikan. Selain itu, buku ini juga bertujuan menuntun pembaca untuk terlibat dalam situasi universal yang ada secara nyata, baik dalam fisik maupun batiniah; baik dalam lingkungan maupun hubungan per-individu.

Penulis menggunakan formula yang disebut MIRACLE (Motivation;Integrity and Inovation; Respect other; Add value; 100% Commitment; Learn, grow, and fun; & Excellent service), yakni beberapa hal yang harus membibit dan membentuk karakter utuh dalam diri seorang pengajar sejati.

Sangat cerdas, Freddy Faldi Syukur bukanlah sarjana pendidikan, namun ia disebut sebagai Guru Dahsyat. Mirip dengan apa yang telah disampaikan jauh-jauh hari oleh Albert Einstein, di ujung materi dalam buku ini disempatkan suatu sub yang mengatakan "Belajar Adalah Bermain".


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Skumfuk Design Studio